Tujuan Ekonomi Islam

  Tujuan Ekonomi Islam

Menurut Muhammad Baqir as Sadr dalam karya monumentalnya, Iqtishaduna, menyatakan bahwa ekonomi Islam adalah sebuah ajaran atau doctrine, dan bukannya ilmu murni (science). Karena apa yang terkandung dalam ekonomi Islam bertujuan memberikan sebuah solusi hidup yang paling baik, sedangkan ilmu ekonomi hanya akan mengantarkan kita kepada pemahaman bagaimana kegiatan ekonomi berjalan.

Dengan demikian, ekonomi Islam tidak hanya sekedar ilmu, tetapi lebih daripada itu, yaitu ekonomi Islam adalah sebuah sistem. Terdapat perbedaan antara ilmu ekonomi Islam dengan ilmu ekonomi modern yang mencolok. Tetapi yang membuat ilmu ekonomi Islam benar-benar berbeda ialah system pertukaran dan transfer satu arah yang terpadu mempengaruhi alokasi kekurangan sumber-sumber daya, dengan demikian menjadikan proses pertukaran langsung relevan dengan kesejahteraan manyeluruh semua umat manusia.

Dalam ilmu ekonomi modern, kesejahteraan individu dianggap sebagai fungsi yang kian meningkat dari komoditi dan jasa yang menurut skala nilainya ingin dimilikinya, dan sebagai fungsi yang kian berkurang dari usaha pengorbanan yang harus dilakukan untuk mencapainya. Tetapi dalam ilmu ekonomi Islam, individu harus memperhitungkan perintah Kitab Suci al Qur’an dan as Sunnah dalam melaksanakan aktivitasnya. Dalam Islam, kesejahteraan sosial dapat  dimaksimalkan jika sumber daya ekonomi juga dialokasikan sedemikian rupa, sehingga dengan pengaturan akan kembali keadaannya, serta tidak seorangpun lebih baik dengan menjadikan orang lain lebih buruk di dalam kerangka al Qur’an dan as Sunnah.

Walaupun ilmu ekonomi Islam, seperti halnya ilmu ekonomi modern, tidak hanya mengenai aspek perilaku manusia yang berhubungan dengan cara mendapatkan uang dan membelanjakannya, namun sebagian besar ia merupakan aktivitas ekonomi kita. Bahkan 1400 tahun yang lalu, Islam telah mengusahakan keseimbangan yang langgeng antara pendapatan dan pembelanjaan guna mencapai sasaran keuntungan social yang maksimum. Islam selalu menekankan agar setiap orang mencari nafkah dengan (perbuatan-perbuatan) halal.

Oleh karena itu, telah ditetapkan atutan-aturan tertentu yang mengatur dan
menentukan bentuk dan intensitas kegiatan-kegiatan manusia dalam memperoleh
kekayaan. Hal ini begitu dibatasi sehingga serasi dengan kedamaian dan
kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Maka dari itu, pada tahap manapun
tidak ada kegiatan ekonomi yang bebas dari beban pertimbangan moral. Untuk
tujuan inilah dalam Kitab Suci al Qur’an dikatakan:

$yg•ƒr’¯»t

 

Sumber :

https://littlehorribles.com/