Teruskan Sadar Pendidikan

Teruskan Sadar Pendidikan

Teruskan Sadar Pendidikan
Teruskan Sadar Pendidikan

SUASANA Kamis pagi (21/4) di Pendopo, Rumah Dinas Wali Kota Bandung,

Jalan Dalem Kaum Nomor 56 terasa berbeda. Kesibukan Atalia Praratya Kamil bertambah. Dari biasanya hanya menyiapkan sendiri bekal dua anak ke sekolah, ditambah menerima wawancara Bandung Ekspres yang mengulas tentang pandangan dia tentang Hari Kartini.

Tergolong cukup pagi sebenarnya mewawancarai pejabat publik seperti istri Wali Kota Bandung Ridwan Kamil itu. Betapa tidak, untuk mendapatkan waktu khusus wawancara, Bandung Ekspres diminta tiba pukul 05.30 di Pendopo oleh ajudanya. Itu pun tidak langsung wawancara. Sebab, masih harus menunggu Atalia selesai mempersiapkan kebutuhan anaknya ke sekolah. Kemudian, ada sesi wawancara stasiun TV swasta nasional sekitar 15 menit. Mereka datang lebih pagi. Pukul 05.00.

’’Silakan masuk akang. Jangan di situ. Mau wawancara di mana? Silakan terserah di mana saja

,’’ kata Lia – sapaan akrab Atalia – yang datang menyapa di ruang tamu Pendopo pukul 06.25. Lalu, dia yang mengenakan kebaya putih khas Sunda itu mengajak masuk ke ruang kerja.

Begitu di dalam ruang kerja tidak langsung wawancara. Sesi pertama dipakai untuk mengambil foto perempuan penerima Kartini Award Jabar Ekspres 2016 itu.

Bagi Lia, Kartini merupakan sosok pejuang emansipasi perempuan Indonesia. Berkat Kartini, perempuan di tanah air sekarang mengecap imbas positif. Dulu, sosok perempuan ditampilkan sebagai insan yang terpinggirkan. Pada saat itu, perempuan tidak bisa mengenyam pendidikan. Dengan lahirnya R. A. Kartini pada 1879 dari keluarga bangsawan, bisa menginspirasi perempuan lain untuk cerdas, pintar dan mengoptimalkan pendidikan. Karena itu, Kartini pun bisa bergaul dengan orang-orang kalangan bangsawan lainnya yang ada di Eropa.

’’Beliau (Kartini) lahir dari kalangan bangsawan. Akhirnya beliau belajar membaca dan menulis,’

’ ucap ibu Emmeril Kahn Mumtadz dan Camillia Laetitia Azzahra ini.

Lia mengungkapkan, meski perempuan saat ini masih ada yang dianggap warga kelas dua dalam masyarakat, namun sudah banyak prestasi yang bisa dilihat. Sudah memiliki kesempatan sama dengan lelaki. Misal, berhasil menjadi pemimpin partai, perusahaan, maupun menjadi anggota parlemen, serta kepala daerah.

Meski begitu, kata Lia, Kartini juga tetap jangan melupakan kodrat sebagai perempuan. Sebab, ada juga sebagian perempuan yang sudah sukses dan berhasil tidak mau menikah. ’’Kamu perempuan tidak boleh melupakan kodratnya sebagi ibu,’’ ungkap perempuan murah senyum ini.

 

Sumber :

https://jeffmatsuda.com/teks-cerpen/