sighat talak terbagi menjadi dua

sighat talak terbagi menjadi dua

sighat talak terbagi menjadi dua

  1. Mutlak

Sighat mutlak adalah lafal yang telah diucapkan tanpa syarat apapun. Sighat Mutlak dibagi menjadi dua, yatitu sharih (jelas) dan kinayah (sindiran). Mutlak sharih adalah lafal talak yang dpat dipahami maknanya saat diucapkan, dan tanpa mengandung makna lain. Lafadz sharih tidak membutuhkan niat. Hanya saja lebih utama jika disertai dengan kata “istri”. Misalnya, seorang laki – laki mengatakan, “ Istriku saya talak “.

Mutlak kinayah adalah lafal talak yang mengandung banyak makna, sehingga bisa ditakwilkan dengan makna yang berbeda – beda. Lafadz talak yang tergolong kinayah terbagi menjadi dua, yaitu kinayah Zhahirah danMuhtamilah. Kinayah zhahirah adalah sindiran yang jelas. Misalnya, seorang suami berkata kepada istrinya “ Beriddahlah “. Maka, kata – kata tersebut termasuk dalam kategori kinayah zhahirah, yaitu sindiran yang hampir bisa dipastikan maksudnya adalah talak. Sedangkan kinayah muhtamilah adalah sindiran yang mengandung banyak makna (multi tafsir). Misalnya, seorang laki – laki mengatakan kepada istrinya, “ Saya melepaskanmu “.

Imam Malik mengatakan bahwa kinayah muhtamilah itu tergantung kepada niat. Jika seseorang meniatkan talak, maka keduanya harus dipisahkan. Sedangkan jika tidak meniatkan talak maka keduanya masih sah sebagai suami istri.

Jumhur ulama mengatakan bahwa kinayah muhtamilah yang diucapkannya itu sama sekali tidak menyebabkan talak.

  1. Muqayyad

Kadang – kadang seorang laki – laki mengucapkan lafal talak kepada istrinya dengan embel – embel kata tertentu berupa syarat atau pengecualian.

Berapa hal yang biasanya dijadikan sebagai syarat dan pengecualian dalam talak, yaitu :

  • Kehendak

Salah satu syarat atau pengecualian yang disandingkan dengan lafal talak adalah kehendak, baik kehendak Allah maupun kehendak Manusia. Misalnya, seorang laki – laki berkata kepada istrinya, “ Engkau saya talak, jika Allah berkehendak “.

  • Perbuatan di Masa Depan

Biasanya, ketika seseorang mengaitkan lafal talak dengan perbuatan yang akan terjadi di masa depan maka ia tidak bisa dilepaskan dari tiga perkara. Pertama, perbuatan yang mungkin atau tidak mungkin terjadi. Misalnya, seorang laki – laki berkata kepada istrinya, “ Jika Umar masuk kerumah, maka engka akan ditalak “.

Syarat ini mungkin terjadi dan mungkin juga tidak akan terjadi. Kedua, perbuatan yang pasti terjadi. Misalnya, seorang suami mengatakan kepada istrinya, “ Jika matahari terbit maka engkau akan ditalak”. Ketiga, perbuatan yang biasanya terjadi. Misalnya, seorang suami mengatakan kepada istrinya, “ Jika engkau haid maka engkau akan ditalak “.


Baca juga :