qadariyah dan jabariyah

QADARIYAH

PENGERTIAN DAN PENISBATAN QADARIYAH

Pengertian Qadariyah secara etimologi berasal dari bahasa arab yaitu qodaro yang bermakna kemampuan dan kekuatan. Adapun secara terminologi adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusi tidak diintervensi oleh Allah swt. Aliran ini lebih menekankan atas kebebasan dan kekuatan manusia dalam mewujudkan perbuatan-perbuatannya.
Harun Nasution menegaskan bahwa aliran ini berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qodar Tuhan. Sebab itulah aliran ini kemudian dinisbatkan dengan istilah Qadariyah.
Dalam istilah Inggrisnya aliran ini dikenal dengan nama free will dan free act. Mereka mengemukakan dalil-dalil aql dan dalil-dalil naql (al-Qur’an dan Hadis) untuk memperkuat pendirian mereka. Jadi, istilah Qadariyah dinisbatkan kepada mereka bukan karena mereka adalah sebuah aliran yang mengajarkan untuk percaya kepada dalil. Justru sebaliknya aliran Qadariyah adalah aliran yang melakukan pengingkaran terhadap dalil.
Penyebab lebih dikenalnya penisbatan dan sebutan Qadariyah bagi aliran pengingkar takdir ini ialah :
1. Tersebar luasnya paham Asy’ariyah sehingga menjadikan kaum Qadariyah dan Mu’tazilah sebagai minoritas dihadapan kaum Asy’ariyah yang bernotabene sebagai mayoritas.
2. Adanya tuduhan tentang kesamaan paham Qadariyah dengan penganut agama Majusi, sebab diketahui bahwa kaum Majusi membatasi takdir illahi hanya pada apa yang mereka namakan sebagai kebaikan saja, sedangkan kejahatan berada diluar takdir illahi.

B.SEJARAH MUNCULNYA ALIRAN QADARIYAH
Aliran Qadariyah muncul sekitar tahun 70H (689M). Aliran ini dipelopori oleh seorang yang bernama Ma’bad Al-Jauhany,ditanah Iraq. Ia adalah seorang yang alimtentang Al-Qur’an dan Hadis, tetapi kemudian ia menjadi sesat dan membuat pendapat-pendapat yang salah serta batal. Akan tetapi meskipun begitu, masih ada juga orang-orang yang terpengaruh sehingga menjadi pengikutnya. Meskipun golongan ini tidak terlalu besar, akan tetapi golongan ini telah pernah membuat sejarah didalam kehidupan kaum muslimin.
Semasa hidupnya Ma’bad Al-Jauhany berguru kepada Hasan Al-Bashri sebagaimana Washil bin Atha’ tokoh pendiri Mu’tazilah. Jadi, Ma’bad termasuk tabi’in atau generasi kedua sesudah NabiMuhammad saw wafat. Akan tetapi,setelah diketahui oleh pemerintah diwaktu itu bahwa ia menyebarkan aliran yang salah dan dianggap sesat, lalu ia pun dibunuh. Ada dua pendapat mengenai kematiannya. Pendapat pertama mengatakan bahwa ia terbunuh dalam sebuah pertempuran melawan Al-Hajjaj pada tahun 80H. Ia terlibat dalam dunia politik dengan mendukung gubernur Sajiztan yaitu Abdurrahman Al-Asy’ats menentang kekuasaan Bani Umayyah. Sedangkan pendapat kedua mengatakan bahwa ia dibunuh oleh khalifah Abdul Malik bin Marwan dan dimakamkan di Damaskus tahun 80H.
Setelah Ma’bad Al-Jauhany wafat, aliran Qadariyah dilanjutkan penyebarannya oleh Ghailan Al-Dimasyqi. Ia adalah seorang ahli pidato sehingga banyak orang yang tertarik dengan kata-kata dan pendapatnya tentang qodar. Maka, Hisyam bin Abdul Malik yang merupakan khalifah dinasti Umayyah pada masa itu menahannya dan memerintahkan untuk dipotong kaki dan tangannya. Setelah itu ia dibunuh dan disalib. Sehingga terhentilah usaha penyebaran aliran Qadariyah yang dilakukan oleh dua tokoh besar aliran Qadariyah tersebut karena adanya halangan dari penguasa.


Sumber: https://belantaraindonesia.org/