Perbandingan Pendidikan

Perbandingan Pendidikan

Perbandingan Pendidikan

  1. Zaman Penjajahan Belanda

Sejarah perkembangan Islam di Indonesia memberi gambaran kepada kita bahwa kontak pertama antara pengembangan agama Islam dan berbagai jenis kebudayddan masyarakat di Indonesia, menunjukkan adanya semacam akomodasi kultural. Di samping melalui pemberturan dalam dunia dagang, sejarah juga menunjukkan bahwa penyebaran Islan kadang-kadang terjadi pula dalam suatu relasi intelektual, ketika ilmu-ilmu dipertentangkan atau dipertemukan, ataupun ketika kepercayaan pada dunia lama mulai menurun.

Oleh karna itu, kedatangan kaum kolonial Belanda berhasil menancapkan kukunya di bumi Nusantara dengan misi gandanya, (imperialisme dan kristeniasasi) sangat merusak dan menjungkirbalikkan tatanan yang sudah ada.

Memang diakui bahwa Belanda cukup banyak mewarnai perjalannan sejarah (islam) di Indonesia. Cukup banyak peristiwa dan pengalaman yang di catat Belanda sejak awal kedatangannya di Indonesia, baik sebagai pedagang perseorangan, ataupun ketika diorganisasikan dalam bentuk kongsi dagang yang bernama VOC, atau juga sebagai aparat pemerintah yang berkuasa dan menjajah. Oleh sebab itu, wajar bila kehadiran mereka selalu mendapat tantangan dan perlawanan dari penduduk pribumi, raja-raja dan tokoh-tokoh agama setempat. Mereka menyadari bahwa untuk mempertahankan kekuasaanya di Indonesia, mereka harus berusaha memahami dan mengerti seluk-beluk pribumi yang dikuasainya. Mereka pun tahu bahwa penduduk yang dijajahnya mayoritas beragama islam.

Apa yang mereka sebut pembaharuan pendidikan, tidak lain adalah westernisasi dan keristenisasi, yang kesemuanya dilakukan untuk kepentingan Barat dan Nasrani. Dua motif inilah yang mewarnai kebijaksanaan penjajahan Belanda yang berlangsung selama 3,5 abad.

Sekolah pertama didirikan VOC di Ambon pada tahun 1607. Pelajaran yang diberikan berupa membaca, menulis dan sembahyang. Sebagi gurunya diangkat orang Belanda, yang mendapat upah

Dengan bertambah meluasnya pendidikan di Indonesia pada abad ke-20, timbullah golongan baru dalam masyarakat di Indonesia, yaitu golongan cerdik pandai yang mendapat tempat maupun perlakuan yang sewajarnya dalam masyarakat kolonial. Pendidikan menimbulkan keinsyafan nasional dan keinsyafan bernegara.

Dengan alat dan senjata yang dipelajarinya dari Barat sendiri, yaitu organisasi rakyat cara modern, lengkap dengan susunan pengurus pusat dan cabang daerah-daerah. Pergerakan ini dicetuskan kaum cerdik pandai, sebagian besar keturunan bangsawan. Partai manapun pergerakan-pergerakan yang timbul sesudah tahun 1908 ada yang berdasarkan sosial seperti Muhammadiyah, ada pula yang berazaskan kebangsaan, sepertin Indische partij, yang pertama kali merumuskan semboyan Indie loa van Nederland yang diambil alih PNI dan diterjemahkam menjadi “Indonesia Merdeka” .

  1. Pedidikan Pada Masa Jepang

Zaman penjajahan Jepang berlangsung pendek (7 Maret 1942-17 Agustus 1945).Karena indonesia dikuasai Jepang di masa perang, segala usaha Jepang ditujukan untuk perang. Murid-murid disuruh bergotong-royong mengumpulkan batu, krikil dan pasir untuk perthanan. Pekarangan ditanamai dengan ubi dan sayur-mayur untuk bahan makanan. Murid disuruh menanam pohon jarak untuk menambah minyak untuk kepentingan perang. Yang terpenting bagi kita zaman Jepang ialah dengan kerobohan kekuasaan Belanda diikiti pula tumbangnya sistem pendidikan kolonial yang pincang. Karena pemerintahan militer Jepang menginternir banyak orang Belanda, maka sekolah-sekolah untuk anak Belanda dan Indonesia kalangan atas ikut lenyap. Tinggal susunan sekolah yang semata-mata untuk anak-anak Indonesia saja. Sekolah rendah seperti sekolah Desa 3 tahun, sekolah sambungan 2 MULO dihapus semua. Yang ada hanya sekolah rakyat yang memberikan pendidikan selama 6 tahun, sekolah menengah ialah Cu Gakko (laki-laki) dan Zyu Gakko (perempuan) yang lama pendidikannya selama 3 tahun.

  1. Pendidikan Sebelum Kemerdekaan

Adapun pendidikan sebelum kemerdekaan adalah sebagai berikut:

  1. Pendidikan Hindu-Budha

Pendidikan pada zaman keemasan Hindu-Budha yang berlangsung antara abad ke-14 hingga abad ke-16 M. Pada priode awal berkembangnya agama Hindu-Budha di nusantara, sistem pendidikan sepenuhnya bermuatan keagamaan yang dilaksanakan di biara-biara atau padepokan. Pada perkembangan selanjutnya, muatan pendidikan bukan hanya berupa ajaran keagamaan, melainkan ilmu pengetahuan yang meliputi sastra, bahasa, filsafat, ilmu pengetahuan, tata negara, dan hukum. Kerajaan-kerajaan hindu di tanah jawa banyak melahirkan empu dan pujangga besar yang melahirkan karya-karya seni yang bermutu tinggi. Pada masa, itu pendidikan mulai tingkat tinggi dikendalikan oleh para pemuka agama. Pendidikan bercorak Hindu-Budha semakin pudar dengan jatuhnya kerajaan majapahit pada awal abad ke-16, dan pendidikan dengan corak islam dalam kerajaan—kerajaan islam datang menggantikannya.

  1. Pendidikan Islam

 Pendidikan berlandaskan ajaran islam dimulai sejak datangnya para saudagar asal Gujarat India ke Nusantara pada kontak teratur dengan para pedagang asal Sumatra dan jawa. Ajaran islam mula-mula berkembang di kawasan pesisir, sementara di pedalaman agama Hindu masih kuat. Didapati pendidikan agama islam di masa prakolonial dkolonial dalam bentuk pendidikan di surau atau langgarlam bentuk pendidikan di surau atau langgar, pendidikan di pesantren, dan pendidikan di madrasah.

  1. Pendidikan Katolik dan Kristen-Protestan

Pendidikan Katolik berkembang mulai abad ke-16 melalui orang-orang Portugis yang mengusai malaka. Dalam usahanya mencari rempah-rempah untuk dijual di Eropa, mereka menyusuri pulau-pulau Ternate, Tidore, Ambon, dan Bacan. Dalam pelayaran itu, mereka selalu disertai misionaris Katolik-Roma yang berperan ganda sebagai penasihat spiritual dalam perjalanan yang jauh dan penyebar agama di tanah yang didatanginya. Kemudian Belanda menyebarkan agama Kristen-Protestan dan mengembangkan sistem pendidikannya sendiri yang bercorak Kristen-Protestan.

  1. Pendidikan Sesudah Kemerdekaan

Pendidikan dan pengajaran sampai tahun 1945 di selenggarakan oleh kantor pengajaran yang terkenal dengan nama jepang Bunkyio Kyoku dan merupakan bagian dari kantor penyelenggara urusan pamong praja yang disebut dengan Naimubu. Setelah diproklamasikannya kemerdekan, pemerintah indonesia yang baru dibentuk menunjuk Ki Hajar Dewantara, pendiri taman sisawa, sebagai menteri pendidikan dan pengajaran mulai 19 Agustus sampai 14 Novembr 1945, kemudian diganti oleh Mr. Dr .T.G.S.G Mulia dari tanggal 14 November 1945 sampai 12 Maret 1946. Tidak lama kemudian Mr. Dr. T.G.S.G Mulia diganti oleh Mohamad Syapei dari 12 Maret 1946 sampai 2 Oktober 1946. Adapun tujuan kurikuum pendidikan yaitu:

  1. Meningkatkan kesadaran bernegara dan bermasyarakat
  2. Meningkatkan pendidikan jasmani
  3. Meningkatkan pendidikan watak
  4. Memberikan perhatian terhadap kesenian
  5. Menghubungkan isi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari
  6. Pendidikan Masa Sekarang

Tujuan pendidikan sekarang ini dirasa sangat berbeda dengan tujuan pendidikan ketika waktu itu. Bila dicari persamaanya terlihat persamaannya yaitu sama-sama berkehendak mencerdaskan pikiran dan perasaan seseorang.  Bisa dilihat penyebabnya yaitu, lantaran pendidikan sekarang ini lebih mementingkan hasil semata, tanpa mau lagi melihat proses yang terjadi di dalamnya.

Kurikulum 1975 di rubah dengan membentuk kurikulum baru yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi pada tahun pelajaran 2004/2005 kurikilum ini hanya mementingkan hasil tes daripada karya, lebih fokus output daeipada terhadap proses dan nilai matematika dan IPA menjadi perhatian banyak pihak pada akhirnya yang muncul sebagai hasil akhir adalah nilai rapot dan nilai UN.

Untuk membenahi kesalahan pada kurikulum 2004/2005 pemerintah menyusun kurikulum baru yaitu kurikulum 2013. Dalam kurikulum 2013 pembelajaran berbasis aktivitas.


Sumber: https://blog.fe-saburai.ac.id/seva-mobil-bekas/