Peran Kearifan Lokal pela dan gandong

Peran Kearifan Lokal pela dan gandong

Meskipun konflik dinyatakan selesai oleh Pemerintah Pusat secara sepihak melalui ditandatanganinya Perjanjian Malino II pada tahun 2002-2003. Namun demikian, konflik-konflik minor sendiri masih sering terjadi dalam lingkungan masyarakat. Ditengarai ada beberapa oknum tertentu yang berkepentingan agar Maluku tidak menjadi damai dan secara terus menerus berkonflik. Konflik-konflik tersebut masih terjadi selang setahun pasca diterapkannya butir-butir kesepakatan dalam perjanjian tersebut, namun tidak berkembang dalam konflik komunal seperti pada rentang 1999-2002.

Meskipun konflik meninggalkan memori kelam bagi masyarakat Maluku, proses perdamaian melalui pembangunan reintegrasi dan kohesi sosial pasca konflik sosio-keagamaan juga berlangsung cepat dalam level sosio masyarakat. Dalam hal ini, peranan local genius berupa revitalisasi pela gandong berperan besar dalam mendamaikan kembali negeri-negeri yang dulunya tersekat-sekat oleh identitas keagamaan untuk kembali membangun persaudaraan kembali.

Misalnya saja pemahaman tentang kearifan lokal tentang makna “kitorang samua basudara” (kita semua adalah bersaudara). Pemahaman tersebut merujuk pada konstruksi bahwa meskipun masyarakat Maluku sendiri terbagi menjadi dua komunitas yakni salam (Islam) dan serani (Nasrani) tetap memiliki satu darah keturunan sama. Revitalisasi konsep tersebut juga dimaksudkan untuk mengikis liyan (the others) yang selama ini menjadi hambatan resolusi pedamaian.

Sebelumnya konteks “kitorang-dorang” (kita dan mereka) mewarnai secara satir gambaran konflik Maluku yang menuntut orang untuk menjadi entitas kedua bagian kubu tersebut. Proses ke-aku-an dan ke-mereka-an memang dilandasi atas sentimen agama Islam dan Kristen. Namun lebih dari itu, bagaimana kita bisa melihat egoisme tersebut menjadi fluid selama proses reintegrasi perdamaian antar agama di Maluku.

Secara garis besar, filosofi katong basudara sendiri berfungsi secara dua arah yakni menjembatani adanya segregasi baik antara komunitas Salam (Islam) maupun komunitas Sarani (Kristen) dan membangun konsensus perdamaian berdasarkan nilai nilai sosio keagamaan yang berkembang dalam ranah setempat.

Adapun gerakan revitalisasi kearifan lokal katong basudara di Maluku sendiri dimulai dengan mendekati tokoh-tokoh masyarakat berpengaruh di negeri-negeri yang selama ini berkonflik seperti halnya negeri Siri-Sori (Islam- Kristen), Tamilou (Islam), dan Hutumuri (Kristen) yang selama ini berkonflik dikarenakan memiliki latar belakang sejarah yang berbeda dengan agama yang dianutnya. Namun memiliki ikatan darah yang sama karena dilahirkan oleh “rahim yang sama” sehingga hubungan antar negeri tersebut seperti layaknya kakak-adik.

 

RECENT POSTS