Penunggang Demo Adalah Kolor Ijo

Penunggang Demo Adalah Kolor Ijo

Penunggang Demo Adalah Kolor Ijo
Penunggang Demo Adalah Kolor Ijo

Belakangan ini demo menentang kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM makin digandrungi. Sebagaimana tradisi sebelumnya, demo kali ini juga dipelopori mahasiswa. Baik yang masih aktif kuliah, sedang skripsi maupun yang sedang terancam DO (Drop Out). Situasinya hampir sama dengan pada saat Reformasi ‘98. Hanya bedanya, pada tahun 98 hukum mahasiswa yang tidak ikut demo adalah haram. Saking haramnya, sampai-sampai malaikat seolah-olah tutup mata dengan kabar adanya temuan kondom yang berserakan di sekitar Gedung MPR/DPR pada hari puncak reformasi.

Sedangkan sekarang tidak demikian. Mahasiswa yang tidak ikut demo hanya dihukumi sebatas makruh saja. Paling-paling mentok hukumnya hanya berubah menjadi fardlu kifayah (kalau sudah ada yang mengerjakan, maka yang lain gugur kewajiban, red). Jadi jangan heran jika jumlah demonstran kali ini masih sepersekian dari jumlah peluru aparat. Jumlah yang masih sangat lemah untuk bisa menjebol pagar halaman Gedung Grahadi. Apalagi menembus barikade polisi yang membentuk formasi pagar betis.

Meski penggemar demo sekarang masih sebatas jumlah kecik dalam permainan dakon, namun cukup menarik untuk diperhatikan. Sebab, isu yang diangkat adalah penolakan terhadap rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Secara politik, pemilihan isu tersebut otomatis menempatkan mahasiswa pada posisi vis a vis dengan negara (baca : pemerintah, red).

Konon, siapapun yang mengkritisi negara pasti akan berhadapan dengan penguasa. Dan, penguasa akan memanfaatkan semua instrumen negara untuk melakukan serangan balik atau setidaknya membuat benteng pertahanan diri. Minimal menyiapkan rasionalisasi untuk berkelit. Sebab dalam konteks seperti ini, rasanya tidak mungkin jika kemudian penguasa memilih lari sambil tutup mata dan tutup telinga lalu bersembunyi di bawah Jembatan Jagir atau di dekat Pintu Air Manggarai.

Dalam episode sejarah kali ini juga demikian. Aksi demonstrasi mahasiswa di mana-mana mendapat tanggapan balik dari pihak kerajaan. Mulai dari perdana menteri, patih, adipati, hulubalang, permaisuri, selir sampai punakawan dimobilisir. Jika perlu jin, perewangan dan danyang-danyang istana juga diterjunkan untuk menghadapi mahasiswa.

Adalah Kepala BIN Sjamsir Siregar yang keluar kandang duluan. Dengan menggunakan ajian khas warisan nenek moyang (baca : orde baru, red), Sjamsir mencoba menelanjangi gerakan mahasiswa. Kepada wartawan ia mengatakan, aksi demo mahasiswa sudah ditunggangi oleh mantan menteri dan pejabat. Barangkali inilah yang disebut ajian ‘lempar batu sembunyi tangan’ yang pernah diajarkan semasa SD dulu.

Entah kenapa, tiba-tiba saya jadi teringat drama sinetron tanpa aktor berjudul Kolor Ijo. Sinetron yang pernah tayang di hampir seluruh daerah ini benar-benar menggemparkan masyarakat. Sinetron ini makin digandrungi setelah media memblow up sampai beberapa seri.

Meski sudah menjadi gosip nasional, namun aktor sinetron ini tidak pernah nyata. Belum ada satu pun cerita yang menyebutkan bahwa Kolor Ijo tertangkap. Andai saja Kolor Ijo tertangkap saat ini juga, pasti jadi rebutan. Terutama bagi warga Jatim. Sebab, ada yang meyakini kolor-kolor ini bisa digunakan untuk penunjuk jalan menuju Grahadi. Makanya sudah ada orang yang antre untuk mengganti Kolor Ijo menjadi Kolor Merah. Ada juga yang ancang-ancang menyiapkan Kolor Kuning, Kolor Biru muda, Kolor Biru Tua, Kolor Ijo muda dan Kolor Ijo Tua (sayangnya pemilik Kolor Putih ketinggalan kereta).

Gosip seputar Kolor Ijo ini juga sama dengan SMS Santet yang belakangan sering masuk tv. Meski identifikasi tentang apa dan siapanya masih menjadi tanda tanya yang tersimpan di kolor setiap orang, tapi kehadirannya dapat dirasakan. Tanda-tandanya terlihat jelas. Dengan kata lain, aromanya bisa dicium, dirasakan, tapi tak bisa dipegang.

Pun begitu dengan gerakan mahasiswa. Keterlibatan ‘tangan-tangan beruang’ sudah pasti ada. Bahkan mungkin sejak jaman Nabi Adam, gerakan mahasiswa ya memang seperti itu. Selalu ditunggangi oleh ‘tangan-tangan beruang’. Wajar. Jangankan aksi politik yang mengudara ke jagad nasional, orang jongkok di kakus saja bisa ditunggangi sama politisi. Sebab, urusan tunggang-menunggang memang selalu menggoda. Bukan hanya dalam hal ideologis, tapi juga sampai ke hal yang biologis. Lha wong politisi yang ideologis saja bisa menunggangi yang berbau biologis kok (kasus Maria Eva ?).

Jika demikian, so what gitcu looohhhh ??? Masalahnya adalah, pentingkah terlibat perang opini di ruang yang sengaja diciptakan oleh penguasa ? Tentu, ukurannya adalah rakyat. Artinya, adu mulut untuk mengklarifikasi hal ini jelas-jelas tidak memberikan solusi bagi rakyat atas kenaikan harga BBM. Sebab di dunia ini, kata filosof, ada 4 kategori masalah. Yakni benar dan penting, benar tapi tidak penting, tidak benar tapi penting dan yang terakhir adalah tidak benar dan tidak penting.

Kearifan dalam mengkategorikan masalah inilah yang perlu diperhatikan. Karena itu, para mahasiswa perlu menjaga stamina dan konsentrasinya. Tidak perlu mengkonsumsi Kuku Bima, Fatigon, atau pun Kratingdeng untuk menjaga stamina. Pun tidak perlu mengkonsumsi Cerebrofit atau apalah untuk menjaga konsentrasi. Yang diperlukan hanyalah mengasah kepekaan sosial. So, biarlah Kepala BIN menggonggong, yang penting tetap TOLAK KENAIKAN BBM !!!!