Pengerahan, Penindasan dan Perlawanan di Masa Penjajahan Jepang

Pengerahan, Penindasan dan Perlawanan di Masa Penjajahan Jepang

Pengerahan, Penindasan dan Perlawanan di Masa Penjajahan Jepang
Di balik senyum manis & propaganda yang menjanjikan, ternyata Jepang bertindak kejam. Jepang telah mengerahkan semua potensi & kekuatan yang tersedia untuk menolong perang yang tengah mereka menghadapi untuk melawan Sekutu. Jepang juga kuras aset kekayaan yang dimiliki Indonesia untuk memenangkan perang & melanjutkan industri di negerinya.

Pada kesempatan kali ini kami akan mengupas berkenaan kebijakan & tindakan Jepang dalam mengerahkan semua kekuatan yang tersedia di Indonesia & juga kekejaman Jepang dalam bermacam bentuk kerja paksa, dan juga kebijakan-kebijakan lain yang menyakitkan rakyat Indonesia.
1. Ekonomi Perang
Selama jaman pendudukan Jepang di Indonesia, diterapkan konsep “Ekonomi perang”. Artinya, semua kekuatan ekonomi di Indonesia digali untuk menolong kegiatan perang. Perlu dimengerti bahwa sebelum saat memasuki PD II, Jepang telah berkembang menjadi negara industri & sekaligus menjadi grup negara imperialis di Asia. Oleh dikarenakan itu, Jepang laksanakan bermacam upaya untuk memperluas wilayahnya. Sasaran utamanya antara lain Korea & Indonesia. Dalam bidang ekonomi, Indonesia amat menarik bagi Jepang.

Sebab Indonesia merupakan kepulauan yang begitu kaya akan bermacam hasil bumi, pertanian, tambang, & lain-lainnya. Kekayaan Indonesia berikut amat cocok untuk keperluan industri Jepang. Indonesia juga dirancang sebagai area penjualan produk-produk industrinya. Meletusnya PD II terhadap hakikatnya merupakan bentuk konkret dari ambisi & impuls imperialisme tiap-tiap negara untuk memperluas area kekuasaannya.

Oleh dikarenakan itu, terhadap waktu berkobarnya PD II, Indonesia amat menjadi sasaran perluasan dampak kekuasaan Jepang. Bahkan, Indonesia lantas menjadi salah satu benteng pertahanan Jepang untuk membendung gerak laju kekuatan tentara Serikat & melawan kekuatan Belanda. Setelah sukses menguasai Indonesia, Jepang menyita kebijakan dalam bidang ekonomi yang sering disebut self help. Hasil perekonomian di Indonesia dijadikan modal untuk memenuhi keperluan pemerintahan Jepang yang tengah berkuasa di Indonesia.

Kebijakan Jepang itu juga sering disebut dengan Ekonomi Perang. Untuk lebih jelasnya harus dicermati bagaimana tindakantindakan Jepang dalam bidang ekonomi di Indonesia.

Pada waktu Jepang mendarat di Indonesia terhadap th. 1942, ternyata tentara Hindia Belanda telah membumihanguskan objek-objek vital yang tersedia di Indonesia. Hal ini ditujukan agar Jepang mengalami susah dalam upaya menguasai Indonesia. Akibat dari pembumihangusan itu, situasi perekonomian di Indonesia menjadi lumpuh terhadap awal pendudukan Jepang.

Sehubungan dengan situasi tersebut, cara pertama yang diambil Jepang adalah laksanakan pengawasan & perbaikan prasarana ekonomi. Beberapa prasarana layaknya jembatan, alat transportasi, telekomunikasi, & bangunan-bangunan diperbaiki. Kemudian lebih dari satu ketetapan yang menolong program pengawasan kegiatan ekonomi dikeluarkan juga ditetapkannya ketetapan pengendalian kenaikan harga. Bagi mereka yang melanggar, akan dijatuhi hukuman berat.

Sementara itu, bidang perkebunan di jaman Jepang mengalami kemunduran. Hal ini tentang dengan kebijakan Jepang yang memutuskan pertalian dengan Eropa (yang merupakan pusat perdagangan dunia). Karena tidak harus memperdagangkan hasil perkebunan yang laku di pasaran dunia, layaknya tebu (gula), tembakau, teh, & kopi, maka Jepang tidak lagi mengembangkan style tanaman tersebut. Bahkan tanah-tanah perkebunan diganti menjadi tanah pertanian cocok dengan keperluan Jepang.

Tanah-tanah itu diganti dengan tanaman padi untuk membuahkan bahan makanan & bahan-bahan lain yang amat dibutuhkan, bila jarak. Tanaman jarak waktu itu amat dibutuhkan dikarenakan bisa digunakan sebagai minyak pelumas mesin-mesin, juga mesin pesawat terbang. Tanaman kina juga amat dibutuhkan, yakni untuk mengakibatkan obat antimalaria, dikarenakan penyakit malaria amat mengganggu & melemahkan kekuatan tempur para prajurit. Pabrik obat yang telah tersedia di Bandung sejak zaman Belanda tetap dihidupkan.

Tanaman tebu di Jawa juga menjadi dikurangi. Pabrik-pabrik gula lebih dari satu besar menjadi ditutup. Penderesan getah karet di Sumatra menjadi dihentikan. Tanaman-tanaman tembakau, teh, & kopi di bermacam area dikurangi. Oleh dikarenakan itu, terhadap jaman Jepang ini, hasil-hasil perkebunan amat menurun. Produksi karet juga turun menjadi seperlimanya memproses th. 1941. Pada th. 1943 memproses teh turun menjadi sepertiganya dari zaman Hindia Belanda.

Beberapa pabrik tekstil juga menjadi ditutup dikarenakan pengadaan kapas & benang begitu sulit. Dalam bidang transportasi, Jepang merasakan kekurangan kapal-kapal. Oleh dikarenakan itu, Jepang terpaksa mengadakan industri kapal angkut dari kayu. Jepang juga mengakses pabrik mesin, paku, kawat, & baja pelapis granat, tapi semua usaha itu tidak berkembang lancar dikarenakan kekurangan suku cadang.

Kebutuhan pangan untuk menolong perang tambah meningkat, agar kegiatan penanaman untuk membuahkan bahan pangan tetap ditingkatkan. Dalam perihal ini, organisasi Jawa Hokokai giat laksanakan kampanye untuk tingkatkan usaha pengadaan pangan lebih-lebih beras & jagung. Tanah pertanian baru, bekas perkebunan dibuka untuk tingkatkan memproses beras.

Di Sumatra Timur, area bekas perkebunan yang luasnya ribuan hektar ditanami lagi agar menjadi area pertanian baru. Di tanah Karo juga dibuka lahan pertanian baru dengan mengfungsikan tenaga para tawanan. Di Kalimantan dan Sulawesi juga dibuka tanah pertanian baru untuk tingkatkan hasil beras. Untuk keperluan menambahkan lahan pertanian ini, Jepang laksanakan penebangan hutan secara liar & besar-besaran.

Di Pulau Jawa ditunaikan penebangan hutan secara liar kira-kira 500.000 hektar. Penebangan hutan secara liar & berlebihan berikut mengakibatkan hutan menjadi gundul, agar timbullah erosi & banjir terhadap musim penghujan. Penebangan hutan secara liar berikut juga berdampak terhadap berkurangnya sumber mata air. Dengan demikian, samasekali tanah pertanian tambah luas, tapi keperluan pangan tetap tidak tercukupi. Keadaan ini tambah tingkatkan beban bagi pemerintah pendudukan Jepang di Indonesia. Untuk mengatasi situasi ini lantas pemerintah pendudukan Jepang mengeluarkan lebih dari satu keputusan yang amat ketat yang tentang dengan memproses padi.
Padi berada segera di bawah pengawasan pemerintah Jepang. Hanya pemerintah Jepang yang berhak sesuaikan untuk produksi, pungutan & penyaluran padi dan juga menentukan harganya. Dalam kaitan ini Jepang telah membentuk badan yang diberi nama Shokuryo Konri Zimusyo (Kantor Pengelolaan Pangan).
Penggiling & pedagang padi tidak boleh beroperasi sendiri, harus diatur oleh Kantor Pengelolaan Pangan.
Para petani harus menjual hasil memproses padinya kepada pemerintah cocok dengan kuota yang telah ditentukan dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah Jepang. Begitu juga padi harus diserahkan ke penggilingan padi yang telah ditunjuk pemerintah Jepang. Dalam perihal ini, berlaku keputusan hasil keseluruhan produksi, petani berhak 40%, lantas 30% disetor kepada pemerintah lewat penggilingan yang telah ditunjuk, & 30% sisanya untuk persiapan bibit dengan disetor ke lumbung desa.
Dalam rangka mengendalikan kebijakan di bidang ekonomi, maka semua objek vital & alat-alat memproses dikuasai oleh Jepang & di bawah pengawasan yang amat ketat. Pemerintah Jepang juga mengeluarkan ketetapan untuk menggerakkan perekonomian di bidang perkebunan. Perkebunan-perkebunan diawasi & dipegang seluruhnya oleh pemerintah Jepang. Banyak perkebunan yang dirusak & diganti dengan tanaman yang cocok untuk keperluan ongkos perang. Rakyat dilarang menanam tebu & mengakibatkan gula. Beberapa perusahaan swasta Jepang yang mengatasi pabrik gula adalah Meiji Seito Kaisya.

2. Pengendalian di Bidang Pendidikan & Kebudayaan
Pemerintah Jepang menjadi membatasi kegiatan pendidikan. Jumlah sekolah juga dikurangi secara drastis. Jumlah sekolah basic alami penurunan dari 21.500 menjadi 13.500 buah. Sekolah sambungan alami penurunan dari 850 menjadi 20 buah. Kegiatan perguruan tinggi boleh dikatakan macet. Jumlah murid sekolah basic alami penurunan 30% & kuantitas siswa sekolah sambungan merosot hingga 90%. Begitu juga tenaga pengajarnya mengalami penurunan secara signifikan. Muatan kurikulum yang diajarkan juga dibatasi. Mata pelajaran bhs Indonesia dijadikan mata pelajaran utama, sekaligus sebagai bhs pengantar. Kemudian, bhs Jepang menjadi mata pelajaran harus di sekolah.

Para pelajar harus menjunjung budaya & tradisi istiadat Jepang. Mereka juga harus laksanakan kegiatan kerja bakti (kinrohosyi). Kegiatan kerja bakti itu meliputi, pengumpulan bahan-bahan untuk perang, penanaman bahan makanan, penanaman pohon jarak, perbaikan jalan, & pembersihan asrama. Para pelajar juga harus mengikuti kegiatan latihan jasmani & kemiliteran. Mereka harus amat menggerakkan impuls Jepang (Nippon Seishin). Para pelajar juga harus menyanyikan lagu Kimigayo, menjunjung bendera Hinomaru & laksanakan gerak badan (taiso) dan juga seikerei.

Akibat keputusan pemerintah Jepang tersebut, mengakibatkan angka buta huruf menjadi meningkat. Oleh dikarenakan itu, pemuda Indonesia mengadakan program pemberantasan buta huruf yang dipelopori oleh Putera.Berdasarkan kenyataan tersebut, bisa dikatakan bahwa situasi pendidikan di Indonesia terhadap jaman pendudukan Jepang mengalami kemunduran.Kemunduran pendidikan itu juga tentang dengan kebijakan pemerintah Jepang yang lebih berorientasi terhadap kemiliteran untuk keperluan pertahanan Indonesia dibandingkan pendidikan. Banyak anak umur sekolah yang harus masuk organisasi semimiliter agar banyak anak yang meninggalkan bangku sekolah.Bagi Jepang, pelaksanaan pendidikan bagi rakyat Indonesia bukan untuk mengakibatkan pandai, tapi dalam rangka untuk pembentukan kader-kader yang memelopori program Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Oleh dikarenakan itu, sekolah tetap menjadi area indoktrinasi kejepangan.

3. Pengerahan Romusa
Berbagai kebijakan & tindakan Jepang layaknya disebutkan di atas telah mengakibatkan penderitaan rakyat. Rakyat petani tidak bisa berbuat banyak kalau harus tunduk kepada praktik-praktik tirani Jepang. Penderitaan rakyat ini tambah dirasakan dengan adanya kebijakan untuk pengerahan tenaga romusa.

Perlu diketahui bahwa untuk menolong Perang Asia Timur Raya, Jepang mengerahkan semua tenaga kerja dari Indonesia.Tenaga kerja inilah yang lantas kami kenal dengan romusa. Mereka dipekerjakan di lingkungan terbuka, bila di lingkungan pembangunan kubu-kubu pertahanan, jalur raya, lapangan udara. Pada awalnya, tenaga kerja dikerahkan di Pulau Jawa yang padat penduduknya, lantas di kota-kota dibentuk barisan romusa sebagai layanan propaganda. Desa-desa diwajibkan untuk buat persiapan sejumlah tenaga romusa. Panitia pengerahan berikut disebut Romukyokai, yang tersedia di setiap daerah.

Rakyat yang dijadikan romusa terhadap biasanya adalah rakyat yang bertenaga kasar. Pada awalnya, rakyat Indonesia laksanakan tugas romusa secara sukarela, agar Jepang tidak mengalami susah untuk meraih tenaga. Sebab, rakyat amat tertarik dengan propaganda tentara Jepang agar rakyat berkenan menolong untuk bekerja apa saja tanpa digaji. Oleh dikarenakan itu, di lebih dari satu kota dulu terdapat lebih dari satu romusa yang sifatnya waktu & sukarela. Romusa sukarela terdiri atas para pegawai yang bekerja (tidak digaji) selama satu minggu di suatu area yang penting. Salah satu contoh tersedia rombongan dari Jakarta dipimpin oleh Sukarno. Para pekerja sukarela ini bekerja dalam situasi yang disebut “Pekan Perjuangan Mati-Matian”. Akan tapi lama-kelamaan dikarenakan keperluan yang tetap meningkat di semua kawasan Asia Tenggara, pengerahan tenaga yang berupa sukarela ini oleh pemerintah Jepang diubah menjadi sebuah keharusan & paksaan.

Rakyat Indonesia yang menjadi romusa itu diperlakukan dengan tidak senonoh, tanpa mengenal peri kemanusiaan. Mereka dipaksa bekerja sejak pagi hari hingga petang, tanpa makan & service yang cukup, padahal mereka laksanakan pekerjaan kasar yang amat butuh banyak asupan makanan dan istirahat. Mereka hanya bisa beristirahat terhadap malam hari. Kesehatan mereka tidak terurus. Tidak jarang di antara mereka jatuh sakit lebih-lebih mati kelaparan.

Kemudian untuk menutupi kekejamannya & agar rakyat menjadi tidak dirugikan, sejak th. 1943, Jepang melancarkan kampanye & propaganda untuk menarik rakyat agar berkenan berangkat bekerja sebagai romusa. Untuk menyita hati rakyat, Jepang berikan julukan mereka yang menjadi romusa itu sebagai “Prajurit Ekonomi” / “Pahlawan Pekerja”. Para romusa itu dimisalkan sebagai orang-orang yang tengah menunaikan tugas sucinya untuk memenangkan perang dalam Perang Asia Timur Raya. Pada periode itu telah kira-kira 300.000 tenaga romusa dikirim ke luar Jawa, lebih-lebih hingga ke luar negeri layaknya ke Birma, Muangthai, Vietnam, Serawak, & Malaya.
Sebagian besar dari mereka tersedia yang lagi ke area asal, tersedia yang tetap tinggal di area kerja, tapi biasanya mereka mati di area kerja.
Dampak dari kebijakan dan tindakan Jepang;Penderitaan rakyat tidak berkurang tapi justru tambah bertambah. Kehidupan rakyat amat menyedihkan. Bahan makanan susah didapatkan dikarenakan banyak petani yang menjadi pekerja romusa. Gelandangan di kota-kota besar tambah tumbuh sumbur, layaknya di kota Surabaya, Jakarta, Bandung, & Semarang. Tidak jarang mereka mati kelaparan di jalanan / di bawah jembatan. Penyakit kudis menjangkiti masyarakat. Pasar gelap tumbuh di kota-kota besar. Akibatnya, barang-barang keperluan susah didapatkan & tambah sedikit jumlahnya. Masyarakat hidup dalam kesulitan. Uang yang dikeluarkan Jepang tidak tersedia jaminannya, lebih-lebih mengalami inflasi yang parah. Bahan-bahan busana susah didapatkan, lebih-lebih masyarakat mengfungsikan karung goni sebagai bahan busana mereka. Obat-obatan juga amat susah didapatkan. Penderitaan rakyat Indonesia tambah tidak tertahankan.
4. Perang Melawan Tirani Jepang
Jepang yang mula-mula disambut dengan senang hati, lantas beralih menjadi kebencian. Rakyat lebih-lebih lebih benci terhadap pemerintah Jepang daripada pemerintah Kolonial Belanda. Jepang seringkali bertindak sewenang-wenang. Rakyat tidak bersalah ditangkap, ditahan, & disiksa. Kekejaman itu ditunaikan oleh kempetai (polisi militer Jepang). Pada jaman pendudukan Jepang banyak gadis & perempuan Indonesia yang ditipu oleh Jepang dengan dalih untuk bekerja sebagai perawat / disekolahkan, ternyata hanya dipaksa untuk melayani para kempetai. Para gadis & perempuan itu disekap dalam kamp-kamp yang tertutup sebagai wanita penghibur. Kamp-kamp itu bisa kami temukan di Solo, Semarang, Jakarta, & Sumatra Barat.

Kondisi itu tingkatkan deretan penderitaan rakyat di bawah kendali penjajah Jepang. Oleh dikarenakan itu, wajar kalau lantas timbul bermacam perlawanan.
a. Aceh Angkat Senjata
Salah satu perlawanan terhadap Jepang di Aceh adalah perlawananan rakyat yang terjadi di Cot Plieng yang dipimpin oleh Abdul Jalil. Abdul Jalil adalah seorang ulama muda, guru mengaji di area Cot Plieng, Provinsi Aceh. Karena melihat kekejaman & kesewenangan pemerintah pendudukan Jepang, lebih-lebih terhadap romusa, maka rakyat Cot Plieng melancarkan perlawanan.

Abdul Jalil memimpin rakyat Cot Plieng untuk melawan tindak penindasan dan kekejaman yang ditunaikan pendudukan Jepang. Di Lhokseumawe, Abdul Jalil sukses menggerakkan rakyat & para santri di kira-kira Cot Plieng. Gerakan Abdul Jalil ini di mata Jepang dianggap sebagai tindakan yang amat membahayakan. Oleh dikarenakan itu, Jepang mengupayakan membujuk Abdul Jalil untuk berdamai. Namun, Abdul Jalil bergeming dengan ajakan damai itu. Karena Abdul Jalil menolak jalur damai, terhadap 10 November 1942, Jepang mengerahkan pasukannya untuk menyerang Cot Plieng.

Kemudian, pertempuran berlanjut hingga terhadap 24 November 1942, waktu rakyat tengah menggerakkan ibadah salat subuh. Karena diserang, maka rakyat- pun dengan sekuat tenaga melawan. Rakyat dengan bersenjatakan pedang & kelewang, bertahan lebih-lebih bisa memukul mundur tentara Jepang. Serangan tentara Jepang diulang untuk yang kedua kalinya, tapi bisa digagalkan oleh rakyat. Kekuatan Jepang tambah ditingkatkan.

Kemudian, Jepang melancarkan serangan untuk yang ketiga kalinya & sukses menghancurkan pertahanan rakyat Cot Plieng, sesudah Jepang membakar masjid. Banyak rakyat pengikut Abdul Jalil yang terbunuh. Dalam situasi terdesak, Abdul Jalil & lebih dari satu pengikutnya sukses meloloskan diri ke Buloh Blang Ara. Beberapa hari kemudian, waktu Abdul Jalil & pengikutnya tengah menggerakkan sholat, mereka ditembaki oleh tentara Jepang agar Abdul Jalil gugur sebagai pahlawan bangsa.

Dalam pertempuran ini, rakyat yang gugur sebanyak 120 orang & 150 orang luka-luka, namun Jepang kehilangan 90 orang prajuritnya. Kebencian rakyat Aceh terhadap Jepang tambah meluas agar keluar perlawanan di Jangka Buyadi bawah pimpinan perwira Gyugun Abdul Hamid.

Dalam situasi perang yang meluas ke bermacam tempat, Jepang melacak cara yang efektif untuk menghentikan perlawanan Abdul Hamid. Jepang menangkap & menyandera semua bagian keluarga Abdul Hamid. Dengan berat hati kelanjutannya Abdul Hamid mengakhiri perlawanannya. Berikutnya perlawanan rakyat berkobar di Pandrah Kabupaten Bireuen. Perlawanan disebabkan oleh masalah penyetoran padi & pengerahan tenaga romusa. Kerja paksa yang diselenggarakan Jepang amat memakan waktu pajang agar para petani nyaris tidak punyai kesempatan untuk menggarap sawah.

Di samping itu, Jepang menancapi bambu runcing di sawah-sawah dengan maksud agar tidak bisa digunakan Sekutu untuk mendaratkan pasukan payungnya. Tindakan Jepang itu amat merugikan rakyat. Dan yang memberatkan lagi, Jepang juga memaksa rakyat untuk menyerahkan hasil panennya sebanyak 50 – 80%.

b. Perlawanan di Singaparna
Singaparna merupakan salah satu area di wilayah Jawa Barat, yang rakyatnya dikenal amat religius & punyai jiwa patriotik. Rakyat Singaparna amat anti terhadap dominasi asing. Oleh dikarenakan itu, rakyat Singaparna amat benci terhadap pendudukan Jepang, lebih-lebih dikala menyadari tabiat pemerintahan Jepang yang amat kejam. Kebijakan-kebijakan Jepang yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat, banyak yang tidak cocok dengan ajaran Islam—ajaran yang banyak dianut oleh masyarakat Singaparna. Atas basic pandangan & ajaran Islam, rakyat Singaparna laksanakan perlawanan terhadap pemerintahan Jepang.

Perlawanan itu juga dilatarbelakangi oleh kehidupan rakyat yang tambah menderita. Pengerahan tenaga romusa dengan paksa & di bawah ancaman ternyata amat mengganggu ketenteraman rakyat. Para romusa dari Singaparna dikirim ke bermacam area di luar Jawa. Mereka biasanya tidak lagi dikarenakan menjadi korban keganasan alam maupun akibat tindakan Jepang yang tidak mengenal perikemanusiaan. Mereka banyak yang meninggal tanpa diketahui di mana kuburnya. Selain itu, rakyat juga diwajibkaan menyerahkan padi & beras dengan ketetapan yang amat menjerat & menindas rakyat, agar penderitaan terjadi di mana-mana.

Kemudian secara khusus rakyat Singaparna di bawah Kiai Zainal Mustafa menentang keras untuk laksanakan seikeirei. Itulah sebabnya rakyat Singaparna mengangkat senjata melawan Jepang.

Perlawanan meletus terhadap bulan Februari, 1944. Perlawanan dipimpin oleh Kiai Zainal Mustafa, seorang ajengan di Sukamanah, Singaparna. Ia adalah pendiri Pesantren Sukamanah. Pendiri pesantren Sukamanah ini tidak berkenan kerja sama dengan Jepang. Ia amat menentang kebijakan-kebijakan Jepang yang tidak cocok dengan ajaran Islam. Bahkan Zainal Mustafa secara diam-diam telah membentuk “Pasukan Tempur Sukamanah” yang dipimpin oleh ajengan Najminudin.

Kiai Zainal Mustafa mengawali pertempuran terhadap salah satu hari Jumat di bulan Februari 1944. Sebelum perang itu dimulai, tersedia lebih dari satu utusan dari kepolisian Tasikmalaya & lebih dari satu orang Indonesia yang idamkan mengadakan perundingan dengan Zainal Mustafa. Namun, polisi Jepang itu dilucuti senjatanya & ditahan oleh pengikut Zainal Mustafa. Kemudian tersedia seorang polisi yang disuruh lagi ke Tasikmalaya untuk melaporkan yang baru saja terjadi & menyampaikan ultimatum dari Kiai Zainal Mustafa kepada pihak Jepang agar besok segera memerdekakan Jawa & kalau tidak, maka akan terjadi pertempuran yang akan mengancam keselamatan orang-orang Jepang.

Hari berikutnya mampir lagi rombongan utusan Jepang ke Sukamanah untuk mengadakan lagi perundingan dengan Zainal Mustafa, tapi utusan Jepang itu bersikap congkak & sombong untuk membuktikan bahwa Jepang punyai kedudukan yang lebih tinggi & lebih kuat. Hal ini menyulut kemarahan pengikut Zainal Mustafa, agar utusan Jepang itu pun dilucuti senjatanya & ditangkap lebih-lebih tersedia yang dibunuh, waktu tersedia juga yang sukses melarikan diri. Setelah perihal ini, Jepang mengirimkan pasukan ke Sukamanah, yang terdiri dari 30 orang kempetai & 60. Orang polisi negara istimewa (tokubetsu keisatsu) dari Tasikmalaya & Garut.

Pertempuran terjadi lebih tidak cukup satu jam di kampung Sukamanah. Pihak rakyat menyerang dengan mempergunakan pedang & bambu runcing yang diikuti dengan teriakan takbir. Zainal Mustafa dengan pengikutnya bertempur mati-matian untuk menghadapi gempuran dari pihak Jepang. Karena kuantitas pasukan yang lebih besar & peralatan senjata yang lebih lengkap, tentara Jepang sukses mengalahkan pasukan Zainal Mustafa. Dalam pertempuran ini banyak berguguran para pejuang Indonesia. Kiai Zainal Mustafa ditangkap Jepang dengan gurunya Kiai Emar. Selanjutnya Kiai Zainal Mustafa dengan 27 orang pengikutnya diangkut ke Jakarta.
Pada 25 Oktober 1944, mereka dihukum mati. Sementara Kiai Emar disiksa oleh polisi Jepang & kelanjutannya meninggal.

c. Perlawanan di Indramayu
Perlawanan terhadap kekejaman Jepang juga terjadi di area Indramayu. Latar belakang & sebab-sebab perlawanan itu tidak jauh tidak sama dengan apa yang terjadi di Singaparna. Para petani & rakyat Indramayu terhadap biasanya hidup amat sengsara. Jepang telah bertindak semena-mena terhadap para petani Indramayu. Mereka harus menyerahkan lebih dari satu besar hasil padinya kepada Jepang. Tentu kebijakan ini amat menyengsarakan rakyat. Begitu juga kebijakan untuk mengerahkan tenaga romusa juga terjadi di Indramayu, agar tambah mengakibatkan rakyat menderita.

Perlawanan rakyat Indramayu antara lain terjadi di Desa Kaplongan, Distrik Karangampel terhadap bulan April 1944. Kemudian terhadap bulan Juli, keluar pula perlawanan rakyat di Desa Cidempet, Kecamatan Lohbener. Perlawanan berikut terjadi dikarenakan rakyat menjadi tertindas dengan adanya kebijakan penarikan hasil padi yang amat memberatkan. Rakyat yang baru saja memanen padinya harus segera dibawa ke balai desa. Setelah itu, pemilik mengajukan keinginan lagi untuk mendapat lebih dari satu padi hasil panennya. Rakyat tidak bisa terima cara-cara Jepang yang demikian. Rakyat protes & melawan. Mereka bersemboyan “lebih baik mati melawan Jepang daripada mati kelaparan”. Setelah perihal tersebut, maka terjadilah perlawanan yang dilancarkan oleh rakyat. Namun, sekali lagi rakyat tidak bisa melawan kekuatan Jepang yang didukung dengan tentara & peralatan yang lengkap. Rakyat telah menjadi korban dalam membela bumi tanah airnya.

d. Rakyat Kalimantan Angkat Senjata
Perlawanan rakyat terhadap kekejaman Jepang terjadi di banyak tempat. Begitu juga di Kalimantan, di sana terjadi momen yang nyaris sama dengan apa yang terjadi di Jawa & Sumatra. Rakyat melawan Jepang dikarenakan himpitan penindasan yang dirasakan amat berat. Salah satu perlawanan di Kalimantan adalah perlawanan yang dipimpin oleh Pang Suma, seorang pemimpin Suku Dayak. Pemimpin Suku Dayak ini punyai dampak yang luas di kalangan orang-orang / suku-suku dari area Tayan, Meliau, & sekitarnya.

Pang Suma & pengikutnya melancarkan perlawanan terhadap Jepang dengan taktik perang gerilya. Mereka hanya berjumlah sedikit, tapi dengan pertolongan rakyat yang militan & dengan mengfungsikan keuntungan alam rimba belantara, sungai, rawa, & area yang susah ditempuh perlawanan berkobar dengan sengitnya. Namun, harus dimengerti bahwa di kalangan masyarakat juga berkeliaran para mata-mata Jepang yang berasal dari orang-orang Indonesia sendiri. Lebih menyedihkan lagi, para mata-mata itu juga tidak segan-segan menangkap rakyat, laksanakan penganiayaan, & pembunuhan, baik terhadap orang-orang yang dicurigai / lebih-lebih terhadap saudaranya sendiri. Adanya mata-mata inilah yang sering mengakibatkan perlawanan para pejuang Indonesia bisa dikalahkan oleh penjajah.

Demikian juga perlawanan rakyat yang dipimpin Pang Suma di Kalimantan ini kelanjutannya mengalami kegagalan juga.

e. Perlawanan Rakyat Irian
Pada jaman pendudukan Jepang, penderitaan juga dialami oleh rakyat di Papua. Mereka mendapat pukulan & penganiayaan yang sering di luar batas kemanusiaan. Oleh dikarenakan itu, wajar kalau lantas mereka melancarkan perlawanan terhadap Jepang. Gerakan perlawanan yang tenar di Papua adalah “Gerakan Koreri” yang berpusat di Biak dengan pemimpinnya bernama L. Rumkorem. Biak merupakan pusat pergolakan untuk melawan pendudukan Jepang. Rakyat Irian punyai impuls juang pantang menyerah, samasekali Jepang amat kuat, namun rakyat hanya mengfungsikan senjata seadanya untuk melawan. Rakyat Irian tetap menambahkan perlawanan di bermacam tempat.

Mereka juga tidak punyai rasa takut. Padahal kalau tersedia rakyat yang tertangkap, Jepang tidak segan-segan berikan hukuman pancung di depan umum. Namun, rakyat Irian tidak gentar menghadapi semua itu. Mereka laksanakan taktik perang gerilya. Tampaknya, Jepang memadai kewalahan menghadapi keberanian & taktik gerilya orang-orang Irian. Akhirnya, Jepang tidak bisa bertahan menghadapi para pejuang Irian tersebut. Jepang kelanjutannya meninggalkan Biak. Oleh dikarenakan itu, bisa dikatakan Pulau Biak ini adalah area bebas & merdeka yang pertama di Indonesia.

Ternyata perlawanan di tanah Irian ini juga meluas ke bermacam daerah, dari Biak lantas ke Yapen Selatan. Salah seorang pemimpin perlawanan di area ini adalah Silas Papare. Perlawanan di area ini terjadi amat lama lebih-lebih hingga lantas tentara Jepang dikalahkan Sekutu. Setelah berjuang bergerilya dalam waktu yang amat lama, rakyat Yape Selatan meraih pertolongan senjata dari Sekutu, pertolongan senjata itu menolong rakyat Yape Selatan untuk mengalahkan Jepang. Hal itu membuktikan bagaimana keuletan rakyat Irian dalam menghadapi kekejaman pendudukan Jepang.

f. Peta di Blitar Angkat Senjata
Penderiatan rakyat amat berat. Tidak tersedia sedikit pun dari pemerintah pendudukan Jepang yang mengayalkan bagaimana hidup rakyat yang diperintahnya.Yang tersedia terhadap benak Jepang adalah memenangkan perang & bagaimana mempertahankan Indonesia dari serangan Sekutu. Namun, justru rakyat yang dikorbankan. Penderitaan demi penderitaan rakyat ini menjadi terlintas di benak Supriyadi seorang Shodanco Peta yang kelanjutannya tumbuh kesadaran nasionalnya untuk melawan Jepang.

Sumber : https://materisekolah.co.id/contoh-teks-eksplanasi-pengertian-ciri-struktur-kaidah-kebahasaan-dan-contoh-lengkap/

Baca Juga :