Niat Buruk di Balik Ibadah Khusyu’

Niat Buruk di Balik Ibadah Khusyu’

Al-Ashmu’i mengatakan bahwa Ibnu Abi Burdah senantiasa mendekati Umar bin Abdul Aziz r.a. dan beribadah sebaik-baiknya di hadapannya. la menyempurnakan ruku’ dan sujudnya didalam shalat berjemaah bersama kaum muslimin lainnya.

Ketekunannya menarik perhatian Umar r.a. Kemudian Umar r.a. memanggil asistennya, Al-Ala’ bin Al-Mughirah r.a. yang terhitung orang kepercayaannya. Umar r.a. menceritakan berkenaan hamba Allah yang taat beribadah tersebut, lantas sang asisten diperintahkan untuk mencari paham berkenaan ketulusan orang berikut didalam beribadah.

Al-Ala’ r.a. menyanggupinya, “Aku dapat mempunyai berita berkenaan orang itu kepada engkau, wahai Amirul Mukminin.” Ketika orang berikut tengah shalat sunnah pada Magrib dan Isya’, Al-Ala’ r.a. berbicara kepadanya, “Segerakanlah shalatmu! Aku memerlukanmu!”

Setelah ia selesai shalat, Al-Ala’ r.a. berbicara kepadanya, “Engkau paham bahwa aku adalah orang terdekat Amirul Mukminin. Aku mengusulkan kepadanya sehingga engkau diangkat menjadi gubernur Irak. Apakah tersedia yang hendak kau sampaikan kepadanya?” Orang itu menjawab, “Tugasku cuma sepanjang satu tahun dan gajiku seratus dua puluh ribu.”

Al-Ala’ r.a. menghendaki sehingga orang berikut menuliskan permintaannya. la pun segera menuliskannya. Kemudian tulisan itu dibawa Al-Ala’ r.a. untuk diserahkan kepada Umar bin Abdul Aziz r.a.

Ketika membacanya, Umar r.a. berkata, “Kita dulu tidak percaya bersama ketakwaan Bilal. la adalah budak yang hitam legam, namun ternyata terlalu bertakwa. Dan kita hampir terperdaya oleh ketakwaan orang tersebut. Setelah kita selidiki ternyata isikan hatinya adalah keburukan semua.”

Baca Juga :