KPAI: Tak Perlu Dihapus Tapi Pendidikan Agama Harus Diperbaiki

KPAI: Tak Perlu Dihapus Tapi Pendidikan Agama Harus Diperbaiki

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti memandang pendidikan agama di sekolah tidak butuh dihapuskan, namun usahakan cara pembelajarannya diubah.

Sebelumnya praktisi edukasi Setyono Djuandi Darmono menganjurkan supaya pendidikan agama di sekolah dihapuskan.

“KPAI menyayangkan perdebatan penghapusan latihan agama di sekolah atas gagasan seseorang yang mempunyai nama Darmono yang dimuat dalam di antara media online telah menciptakan situasi memanas,” kata Retno di Jakarta.

“Padahal, sepanjang pemantauan KPAI, pemerintah pusat melewati Lukman Hakim selaku Menteri Agama dan Muhajir Efendi selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI telah sejumlah kali menyerahkan pernyataan sah bahwa pemerintah tidak bakal menghapus latihan agama di sekolah,” sambungnya.

Usulan Darmono soal penghapusan edukasi agama di sekolah bukanlah tanpa dasar. Menurutnya ketika ini edukasi agama di sekolah justeru dimanfaatkan guna alat politik. Pendidikan yang seharusnya menyerahkan ilmu mengenai persatuan bangsa sejak dini, justeru dikhawatirkan Darmono justeru berujung dengan radikalisme. Hal tersebut lantaran adanya perbedaan pemberian edukasi agama cocok dengan agama masing-masing, sampai-sampai seolah-olah agama tersebut menjadi identitas.

Mengungkit soal edukasi agama di sekolah yang dikritisi Darmono, Retno menyaksikan pandangan Darmono itu dengan kata lain pendidikan agama yang terdapat di Indonesia, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu.

Retno memandang edukasi agama di Indonesia memang melulu difokuskan untuk persoalan teoritis namun tidak cukup dalam mengimplementasikan ke dalam arti atau makna yang dapat dipraktikan oleh siswa pada lingkungan sehari-hari.

Meskipun pada Kurikulum 2013, guru dituntut untuk dapat melakukan proses pembelajaran dengan prinsip mengingat, memahami, menerapkan, meneliti dan mencipta (5M), tetapi pada eksekusinya hampir belum terdapat penerapan yang dapat diamalkan semua murid.

“Dalam proses pembelajaran, peserta didik tidak cukup didorong guna mengembangkan keterampilan berpikir, proses pembelajaran di ruang belajar lebih ditunjukkan kepada menghafal informasi,” ujarnya.

Retno pun sempat mengungkapkan permasalahan Kurikulum 2013 di mana edukasi agama di sekolah digabung dengan edukasi budi pekerti. Peleburan kedua edukasi tersebut tidak sedikit dikritik masyarakat lantaran menyaksikan dasar buku suci setiap agama serta berlandaskan norma-norma dan kebiasaan yang berlaku di sebuah tempat yang berbeda. Ia meminta untuk pemerintah guna lebih bijaksana dalam menilai pembagian edukasi yang terbaik untuk anak bangsa.

Dengan demikian Retno menilai bila pendidikan agama masih sangat dibutuhkan di sekolah. Akan tetapi, yang mesti diserahkan masukan merupakan soal cara pembelajarannya serta pelajaran yang diberikan. Semisal, pelajaran yang diserahkan ialah bagaimana dapat menghargai sesama tanpa menyaksikan agama, ras, warna kulit ataupun kedudukan sosial.

“Hal ini dapat menjadi pelajaran yg dirasakan utama, menilik mata di negeri ini kita paling majemuk, keragaman dan perbedaan ialah keniscayaan di Indonesia. Jadi penting latihan agama pun memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan memperkokoh persatuan bangsa,” tandasnya.

Sumber : http://www.redirect.am/?https://www.pelajaran.co.id