Konsep Subkultur dalam Masyarakat

Konsep Subkultur dalam Masyarakat

Konsep Subkultur dalam Masyarakat

Konsep subkultur adalah

suatu konsep yang terus bergerak yang bersifat konstitutif bagi objek studinya. Ia adalah suatu terminologi klasifikaoris yang mencoba memetakan dunia sosial dalam suatu tindakan representasi. Subkultur tidak hadir sebagai suatu objek autentik, melainkan dikemukakan oleh para teoritisi subkultur. Kebudayaan adalah subkultur mengacu kepada seluruh cara hidup atau peta makna yang menjadikan dunia ini mudah dipahami oleh anggotanya. Kata “sub” mengandung konotasi suatu kondisi yang khas dan berbeda dibandingkan dengan masyarakat dominan atau mainstream.

Atribut yang mendefinisikan subkultur, pada gilirannya terletak pada bagaimana akses diletakkan pada perbedaan antara kelompok kultural atau sosial tertentu dengan kebudayaan ataumasyarakat yang lebih luas. Titik berat diletakkan pada variasi dari kolektifitas yang lebih luas yang diposisikan secara sama, namun tidak problematis, sebagai sesuatu yang norma, rata-rata dan dominan. Subkultur dengan kata alain dipandang rendah atau menikmati satu kesadaran tentang perbedaan. Menurut Thornton, opengertian penting dari awalan “sub” adalah lapis bawah atau bawah tanah. Subkultur dipandang sebagai ruang bagi budaya menyimpang untuk menasosiasikan ulang posisi mereka atau untuk meraih tempat bagi dirinya sendiri. Sehingga kebanyakan teori subkultur terkait dengan perlawanan semakin kentara. Kebanyakan kita menganggap dan mengidentikkan subkultur dengan suatu kegiatan yang sifatnya negatif. Padahal, kalau kita tahu dan sadar akan arti dan tujuan kata tersebut, subkultur tidak selalu ditujukan untuk hal yang negatif.

Menurut Mazhab Chicago mengeksplorasi penyimpangan remaja sebagai serangkaian perilaku kolektif yang dikelola di dalam dan melalui nilai kelas subkultur. Perilaku anak muda yang mengganggu kepentingan umum dipahami bukan sebagai patologi individual, atau sebagai akibat dari anak muda yang tak terbedakan, namun sebagai solusi praktis kolektif terhadap masalah kelas yang muncul secara struktural. Para teoretisi kultural studies setuju bahwa anak muda tidak seharusnya dipahami sebagai kelompok homoigen agar perbedaan kelas dan artikulasi mereka denghan nilai – nilai kultural mainstream dan nilai – nila kultural dominan dapat dipahami. Subkultur dilihat sebagai solusi ajaib atau simbolis atas persoalan struktural kelas.  Chicago School mengidentifikasi bahwa reaksi subkultur lahir bukan sebagai fenomena reaksi individual tetapi reaksi kelompok terhadap problem kelas. Penolakan terjadi pada kaum kelas pekerja terhadap kelompok kelas menengah. Dalam model pembagian seperti ini, keadaan kesejahteraan sosial dan ekonomi dinilai sangat tidak adil. Kelompok yang merasa dirugikan, karena kondisi struktur cipataan sangat berperan menyebabkan kondisi ini, berusaha dengan keterbatasan yang ada tetap ingin dapat menikmati hidup dengan cara melakukan redefinisi budaya atau menjadi subkultur agar terasa lebih nyaman.

Subkultur memunculkan suatu upaya untuk mengatasi masalah – masalah yang di alami secara kolektif yang muncul dari kontradiksi berbagai struktur sosial. Seubkultur membentuk suatu bentuk identitas kolektif dimana identitas individu bisa diperoleh diluar identitas yang melekat pada kelas, pendidikan dan pekerjaan. Menurut Brake ada lima fungsi yang bisa di mainkan subkultur bagi para anggotanya diantaranya yaitu :

  1. Menyediakan suatu solusi atas berbagai masalah sosio ekonomi dan struktural.
  2. Menawarkan suatu bentuk identitas kolektif yang berbeda dari sekolah dan kerja.
  3. Memperoleh suatu ruang bagi pengalaman dan gambarab alternatif realitas sosial.
  4. Menyediakan berebagai aktifitas hiburan bermakna yang bertentangan dengan sekolah dan kerja

Sumber:

https://movistarnext.com/video-maker-apk/