Kisah Sindi, Anak Yatim di Kaki Gunung Salak Bogor

Kisah Sindi, Anak Yatim di Kaki Gunung Salak Bogor

Kisah Sindi, Anak Yatim di Kaki Gunung Salak Bogor
Kisah Sindi, Anak Yatim di Kaki Gunung Salak Bogor

Tidak ada kenikmatan yang luar biasa. Selain tawa seorang anak

bersama ayah ibunya di rumah. Anak-anak yang bukan hanya aman di pelukan kasih sayang orang tuanya. Tapi lebih dari itu, segala keperluan hidupnya terjamin. Karena ayah ibunya selalu hadir untuk mengasuh, mendidik, bahkan menaungi hati dan pikiran sang anak di rumah.

Suasana rumah yang hangat dan penuh canda tawa itu tentu

tidak bisa dirasakan anak-anak yatim atau yatim piatu. Anak yatim yang tidak lagi pernah merasakan kecupan cinta sang ayah. Anak yatim piatu yang tidak lagi mendapat kehangatan dekapan ayah dan ibu. Hanya rasa yang sepi dan sedih sehari-hari. Terus menerus menggelayut di hati dan pikiran mereka. Anak-anak yatim dan yatim piatu, suka tidak suka, hari ini hanya berteman dengan tetesan air mata. Akibat terlalu cepatnya “pergi” sang ayah dan ibu sekalipun kecupan keduanya masih sangat diperlukan anak-anak yatim piatu di usianya yang sangat muda.
Anak-anak yatim dan piatu, hidup dalam kesepian. Jauh dari asuhan dan didikan ayah ibu. Apalagi jaminan pangan dan sandang yang memang harus diterimanya seperti anak-anak lainnya. Anak-anak yang kehilangan sosok ayah bahkan ibu. Anak-anak tanpa kehangatan pelukan ayah dan ibunya. Saat gerimis hujan sekalipun. Lagi-lagi di pagi ini, tetes air mata anak yatim piatu pun mengalir deras.

Sebut saja, Sindi anak yatim kelas 6 SD di Warung Loa Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Kaki Gunung

Salak Bogor. Adalah fakta, hari-harinya dihadapkan pada kegiatan belajar dan merapihkan rumah. Untuk membantu ibunya yang sibuk mencari nafkah sehari-hari. Jangan jajan ke warung terdekat. Bermain bersama anak-anak sebayanya agak jauh dari harapan. Bahwa Sindi anak yatim adalah fakta. Sambil menunggu “sikap” orang-orang di sekelilingnya. Apa dan mau apa kita terhadap anak-anak yatim yang ada di dekat kita?
WhatsApp Image 2020-02-02 at 07.29.56.jpeg
Anak yatim di kaki gunung salak bogor
Jangan ada tetes air mata anak yatim di dekat kita.
Itulah sikap kepedulian yang dibangun masyarakat mampu di zaman now. Sementara di luar sana, berapa orang “berkompetisi” mempertontonkan gaya hidup, perilaku konsumtf, bahkan cenderung hedonis. Masihkah ada sikap kepedulian yang lebih konkret selain menyebut anak-anak yatim “kasihan mereka”?

 

Sumber :

https://www.kakakpintar.id/