IAS Target Go International

IAS Target Go International

IAS Target Go International
IAS Target Go International

Sekolah Aviasi Indonesia (IAS) Jakarta

terus mengembangkan sayapnya. Setelah sukses dengan pendidikan nondiploma ATC yunior, mereka kini akan mengembangkan pendidikan ATC senior.

Mereka pun berharap bisa go international seperti yang dilakukan Akademi Aviasi Singapura (SAA). “Target kami ke depan memangsepertiitu. Suatu saat IAS bisa go international. Setidaknya menembus level regional,” ujar Direktur Utama IAS Zulkoflie Abbas saat membuka Angkatan Ke-5 IAS di Kampus IAS di Wisma Aldiron, Jakarta.

Menurut Zul, lembaga yang dipimpinnya

saat ini sudah memiliki beberapa program pendidikan penerbangan. Selain ATC yunior dan AFIS (Aerodrome Flight Information Service), mereka juga sudah memiliki program pendidikan prosedural yang dikhususkan untuk pendidikan dan pelatihan petugas ATC senior.

Dalam tugasnya, pengatur lalu lintas udara dibentuk untuk memberikan layanan pengaturan lalu lintas udara, terutama pesawat udara agar tidak terjadi tabrakan antarpesawat dan tabrakan antara pesawat udara dengan benda-benda yang ada di sekitarnya saat beroperasi.

ATC juga berperan membantu

pilot saat keadaan darurat, memberikan informasi seperti informasi cuaca, navigasi penerbangan, dan lalu lintas udara. Skill inilah yang kini dikembangkan di IAS. Bahkan, sejak berdiri pada 2015, lembaga pendidikan ini sudah mendidik siswa angkatan kelima.

Karena itu Zul optimistis suatu saat IAS bisa menjadi sekolah internasional di mana siswanya berasal dari mancanegara seperti yang dilakukan SAA. Apalagi pihaknya juga terus melakukan penyempurnaan dalam program pendidikan serta sarana prasarana yang dibutuhkan untuk mencetak tenaga-tenaga andal di bidang penerbangan.

“Saya yakin, one day IAS bisa go international seperti Akademi Aviasi Singapura. Karena prinsipnya kami juga bisa memiliki fasilitas sama seperti mereka,” ujar Zul. Zul pantas menjadikan SAA sebagai rujukan pengembangan lembaga yang dipimpinnya.

Sebab sejak SAA dibangun pada 1957, akademi itu sudah melatih lebih dari 67.000 peserta dari 200 negara, baik pelatihan di bidang manajemen penerbangan, keselamatan dan keamanan penerbangan, layanan lalu lintas udara maupun layanan darurat bandara. Karena itu dia berharap IAS yang didirikan pada 2015 itu bisa mengikuti kesuksesan SAA.

Sementara itu Headmaster IAS Budi Hendro Setiyono mengatakan, pihaknya akan terus mencetak calon-calon tenaga ATC yang andal. Apalagi kebutuhan tenaga di bidang penerbangan itu masih cukup besar. Termasuk para pengatur lalu lintas udara.

“Sekarang IAS sudah masuk angkatan kelima. Dansaya sebagai headmaster akan berusaha mencetak mereka menjadi tenaga-tenaga ATC yang andal. Bahkan saya juga akan berupaya keras untuk memfasilitasi mereka agar bisa bekerja di lembaga-lembaga yang berkaitan dengan keahlian mereka, terutama AirNav Indonesia,” ujar Budi yang juga mantan General Manager Jakarta Traffic Service Center (JATSC) AirNav Indonesia.

 

 

Baca Juga :