Gunakanlah kata dan kalimat positif

Gunakanlah kata dan kalimat positif

Gunakanlah kata dan kalimat positif
Gunakanlah kata dan kalimat positif

Setiap kali saya melakukan perjalanan ke berbagai daerah dan sekolah-sekolah untuk melihat perkembangan sekolah tersebut, sering saya melihat belum saya menerapkan ini di kelas dan meminta anak2 menuliskan kelas impian peraturan2 tertulis di kelas. Isinya macam2 seperti `Jangan buang sampah sembarangan’, “Tidak boleh terlambat’, “Jangan Menyontek’, dan berbagai kalimat2 yang selalu dimulai dengan kata2 jangan, tidak, stop atau kata negative sejenis.

Sebaiknya, kata2 negatif ini mulai dihilangkan. Kata negative bisa berakibat negative pula bagi anak2 antara lain menyebabkan hilangnya kreativitas mereka. Menurut saya, anak bukannya mematuhi peraturan malah membuat mereka mencoba melanggar peraturan, terlebih lagi, peraturan ini biasanya dibuat sepihak, yaitu si guru yang membuat. Anak-anak sih pasti cuma mengiyakan saja apa kata guru mereka, namun apakah mereka berusaha melaksanakan apalagi mentaatinya?

Dari pengamatan dan pengalaman saya berbagi ilmu di berbagai daerah dengan guru2 biasanya peraturan hanya tinggal peraturan. Guru terus saja berteriak-teriak setiap kali murid-muridnya bermain di kelas. Bahkan, yang paling menyeramkan, guru masih bertindak kasar dengan melempar penghapus ke arah muridnya apabila ia melanggar peraturan atau rebut sendiri.Wah, kalau ada istilah KDRT untuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga, jangan sampai muncul istilah KDRK, atau Kekerasan Dalam Ruang Kelas. Jawaban2 polos dari guru bahwa mereka akan melakukan KDRK ini terus terang menyesakkan dada saya.

Anak didik adalah titipan orang tua mereka kepada guru. Bagaimana mungkin memperlakukan titipan itu dengan semena-mena? Kita, sebagai guru, bertanggung jawab dunia dan akherat terhadap apa yang kita lakukan di kelas. Kalau sudah begitu, para guru biasanya tersipu malu dan meminta saran dengan berbagai isu yang mereka hadapi di kelas.

Mempositifkan kata-kata yang negative ini susah susah gampang. Di beberapa daerah, saking mereka terbiasa dengan berbagai peraturan selama bertahun-tahun yang berisi “Tidak” , “Jangan”, “Dilarang” dan “Stop” ini, para guru kesulitan mencari kata-kata pengganti yang positif. Saya perlu waktu lama dari yang saya perkirakan untuk memberi clue kepada mereka tentang kalimat-kalimat positif ini. Mudah sebetulnya, hanya saja, kita perlu berlatih dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya saja, kalimat “Jangan Ribut”, kita bisa menggantinya dengan “Harap Tenang”, atau “Bekerja dengan tenang”. Untuk kalimat “Jangan Buang Sampah Sembarangan” bisa diganti dengan “Buanglah sampah pada tempatnya”.Untuk mengganti kata “Jangan Menyontek” gunakanlah “Bekerja dengan Jujur”. Untuk kalimat “Dilarang Menginjak Rumput Taman Sekolah” bisa dipakai kalimat “Sayangilah Aku. Aku hidup dan akan membuat taman ini indah”.

Kalimat2 di atas adalah sebagian contoh saja. Tentu ada berbagai peraturan yang ditetapkan di tiap sekolah, dan masing-masing sekolah berbeda, sesuai dengan budaya mereka masing-masing. Sekali lagi, intinya adalah guru harus kreatif mencari dan menciptakan suasana positif. Salah satunya dengan menggunakan kalimat-kalimat yang variatif dan positif. SOP bukan Cuma milik guru kelas Saya juga sering menjumpai guru2 bidang studi yang berkomentar bahwa mereka bukanlah guru kelas.

SOP dan penerapan disiplin adalah tugas dan tanggung jawab guru kelas. Bahkan sering mereka ngotot kepada saya bahwa system di SMP dan SMA berbeda dengan SD. Guru SD lah yang bertanggung jawab mendidik siswanya semasa SD agar menjadi anak yang disiplin. Padahal, pembelajaran itu kan berlangsung terus menerus dan bukan tanggung jawab perorangan. Pendidikan juga tanggung jawab bersama, apakah guru tersebut mengajar si anak secara langsung atau tidak. Kenyataannya guru bidang studi pun banyak yang mengeluh kepada saya tentang sulitnya mendidik siswa mereka untuk paling tidak mendengar nasehat mereka sebagai guru bidang studi. Banyak pula yang mengeluh kewalahan karena siswa2 tidak disiplin di dalam laboratorium atau kegiatan lainnya sehingga berakibat fatal.

Kalau dilihat dari cerita mereka, kelihatan sekali baik guru kelas atau guru bidang studi memiliki masalah yang sama, yaitu disiplin. Masalahnya adalah apakah mereka mau atau tidak menjalani SOP ini di kelas. SOP, atau Belief, atau Budaya Kelas, ternyata juga bisa dilaksanakan di kelas2 bidang studi. Penerapannya sama: dilakukan di awal tahun ajaran baru, murid terus menerus diingatkan akan `janji’ mereka untuk melaksanakan apa yang sudah mereka tulis selama pelajaran berlangsung. Bisa saja, guru bidang studi berkreasi dengan menamakan peraturan kelas mereka ini dengan tema yang ada di pelajaran mereka, misalnya saja salah satu guru matematika sebuah daerah di Sumatera menamakan SOP kelasnya dengan sebutan “Kelas Operasi Matematika”. Di dalamnya tercantum kalimat2 belief seperti “Pangkat Kebersihan”, “Kali Ketelitian”, “Tambah Kesopanan dan Keramahan”, “Kurang Keributan dalam Kelas”.

Hal-hal kreatif di atas akan memacu siswa untuk semangat belajar. Memang, perlu waktu untuk memberi anak2 pengertian dalam pelaksanaannya. Biasanya saya memerlukan waktu dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menerapkan ini di dalam kelas. Artinya, selama tiga bulan itu adalah waktu saya dan anak2 bersosialisasi, saling mengenal, terus menerus mengingatkan mereka akan janji mereka dalam belief. Saya juga menunjukkan kepada mereka bahwa saya konsisten menjalankan apa yang sudah saya tulis di dalam SOP.

Sumber : https://www.pressnews.biz/@theeacher/dosenpendidikan-releases-abrand-new-article-onthe-respiratory-system-of-different-animals-p43k74kja3bj