Fakta Unik Pelopor Sumpah Pemuda Muhammad Yamin

Fakta Unik Pelopor Sumpah Pemuda Muhammad Yamin

“Yamin biasa terjadi paling muka di pematang itu. Seperti pemimpin, ia menggiring barusan temannya untuk mandi di Batang Ombilin. Tampak kepemimpinannya di antara rekan sebaya.”
Begitulah kesaksian ibu tempat tinggal tangga bernama Ramidi yang tinggal di desa yang sama bersama dengan Muhammad Yamin dikutip dari buku seri Tempo Muhammad Yamin: Penggagas Indonesia yang Dihujat dan Dipuja. Buku biografi yang dibawakan secara jurnalistik itu mengulik tidak hanya masa kecilnya tetapi terhitung bagaimana ia dianggap sebagai pelaku keonaran dan dipenjara.

Muhammad Yamin memiliki lebih dari satu peran didalam kemerdekaan Indonesia. Ia yang berasal dari Sumatra Barat memulai kariernya selagi join bersama dengan organisasi Jong Sumatranen Bond. Saat Kongres Pemuda II yang dijalankan terhadap 27 – 28 Oktober 1928, Muhammad Yamin memiliki peran gawat yakni yang menyusun teks Sumpah Pemuda dan mengambil keputusan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Teks Pancasila terhitung berakar dari konsep yang diajukan Muhammad Yamin. Saat pelaksanaan sidang BPUPKI terhadap 29 Mei – 1 Juni 1945, ia mengusulkan lima inspirasi dasar negara yang terdiri atas perikebangsaan, perikemanusiaan, periketuhanan, perikerakyatan, dan kesejahteraan rakyat.

Di balik peran krusialnya terhadap Indonesia, tokoh nasional yang dijuluki pelopor Sumpah Pemuda ini memiliki fakta unik yang belum banyak orang tahu. Fakta-fakta selanjutnya disarikan dari buku seri Tempo Muhammad Yamin: Penggagas Indonesia yang Dihujat dan Dipuja.

1. Cepat jenuh supaya pindah-pindah sekolah
Bila kamu sering sekolah gara-gara harus ikuti orang tua atau kerabaat yang membesarkanmu, Muhammad Yamin pun mengalami perihal yang sama. Namun, tidak cuman kondisi tersebut, ia terhitung berpindah-pindah gara-gara cepat bosan.

Dalam buku disebutkan bahwa ia tak cocok bersama dengan pelajaran. Seperti ketika ia mendapat beasiswa untuk belajar di Sekolah Dokter Hewan, ia mengaku tidak tertarik terhadap binatang dan penyakitnya dan beralih ke Sekolah Pertanian di Bogor untuk mempelajari kehidupan flora. Lalu, ke sekolah mana kembali ia berpaling?

2. Pernah usulkan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional
Kita menyadari bahwa ia berperan didalam menentukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Namun, ia terhitung sempat mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional. Sejarawan Restu Gunawan mengiyakannya sambil menyatakan bahwa ia bukan yang pertama.

Sebelumnya, Ki Hajar Dewantara terhitung mengusulkan perihal yang sama didalam Kongres Pengajaran Kolonial di Den Haag, Belanda terhadap 28 Agustus 1916. Kalau bahasa nasional Indonesia adalah Melayu, mungkinkah Indonesia dapat lebih akur bersama dengan negara tetangga Malaysia gara-gara memiliki bahasa yang sama?

3. Lagu nasional “Indonesia Raya” adalah gubahannya
Di buku-buku pelajaran peristiwa sekolah, pencipta lagu “Indonesia Raya” adalah Wage Rudolf Soepratman. Namun, lebih dari satu sumber lain menyatakan syair lagu “Indonesia”—yang sekarang dikenal “Indonesia Raya”—adalah gubahan Muhammad Yamin.

Salah satu sumber selanjutnya adalah buku Otobiografi A.A. Navis: Satiris dan Suara Kritis dari Daerah. Dalam buku tersebut, A.A. Navis menyebutkan, “Komposisi nadanya disusun W.R. Soepratman dan kata-katanya oleh Muhammad Yamin.” Ada lebih dari satu sumber lain yang disebutkan didalam buku seri Tempo ini.

4. Sempat huni 26 tempat penahanan
Muhammad Yamin disebut-sebut sebagai salah satu pelaku kudeta pertama sesudah Indonesia merdeka terhadap 3 Juli 1946. Sebuah maklumat yang dibuat olehnya dianggap sebagai kudeta dan gara-gara perihal itu Yamin harus hidup di 26 tempat penahanan tidak serupa didalam dua tahun.

Namun, sesudah itu ia memperoleh grasi dari Presiden pertama RI Ir. Soekarno dan sesudah itu mejadi menteri yang lebih-lebih lebih dari sekali. Saat menjadi Menteri Kehakiman, Yamin melepas tahanan politik (tapol) sebanyak 950 orang yang dicap komunis atau sosialis. Jejaknya itu memicu Muhammad Yamin disebut sebagai tokoh nasional yang kontroversial.

5. Sastrawan yang gemar membaca
Dari semuanya, salah satu perihal yang mengasyikkan dari Muhammad Yamin adalah dia gandrung membaca sejak kecil. Ia rajin membaca gara-gara begitu haus dapat ilmu layaknya yang disampaikan didalam buku Muhammad Yamin: Sosok Seorang Nasionalis (2005) karya Momon Abdul Rahman dan Darmansyah. Untungnya tersedia Komisi untuk Bacaan Sekolah Pribumi dan Bacaan rakyat yang menerbitkan banyak buku berbahasa Melayu sebagai bacaan yang dilahap Yamin.

Artikel Lainnya : https://tokoh.co.id/biodata-blackpink-all-member-dan-fakta-terlengkap/

Muhammad Yamin disebut sastrawan gara-gara dirinya sering menciptakan sonata-soneta yang dikumpulkan didalam sebuah buku berjudul Tanah Air terhadap 9 Desember 1922. Ia terhitung merilis buku kumpulan puisi keduanya berjudul Indonesia, Tumpah Darahku.

baca juga :