Disiplin Untuk Semua, disiplin dimana saja

Disiplin Untuk Semua, disiplin dimana saja

Disiplin Untuk Semua, disiplin dimana saj
Disiplin Untuk Semua, disiplin dimana saj

Kasus-kasus pelecehan oleh murid kepada guru bidang studi juga sering terjadi karena siswa menganggap guru bidang studi bukanlah guru kelas yang harus mereka hormati. Sebetulnya hal ini tidak perlu terjadi andai saja guru bidang studi mau peduli dengan anak didiknya, mau mendengar mereka, dan yang penting mau menerapkan sikap disiplin yang sama seperti ketika guru kelas menerapkan disiplin, sehingga tidak ada lagi komentar sepihak tentang guru bidang studi yang `dikerjai’ oleh siswa. Saya sudah menjalani ini ketika saya mengajar di kelas bahasa Inggris baik di SMP dan SMA, bahkan di kelas super. Kelas super adalah kelas yang didesain bagi anak2 yang memiliki IQ di atas 140.

Sehari-hari mereka hanya belajar pelajaran seperti fisika, kimia, biologi dan matematika. Kalau pun mereka belajar bahasa Inggris atau bahasa Indonesia, itu untuk membantu mereka menjawab pertanyaan2 dalam bahasa inggris. Agar saya tidak menjadi bulan2an mereka, sejak semula sudah saya terapkan SOP ini. Anak2 membuat sendiri dan menempel SOP di dinding kelas, saya hanya mengawasi. Setiap kali mereka mulai mengarah pada melanggar saya akan mengingatkan mereka. Pendekatannya saja yang berbeda dengan anak2 sekolah dasar. Saya menggunakan system tarik ulur tadi, menjadi teman di kala mereka berkeluh kesah, namun tetap tegas dalam belajar di kelas, sehingga mereka menghargai dan menghormati saya.

Di beberapa pelatihan guru, saya berbagi kepada guru-guru bidang studi. Pada mulanya mereka menolak dengan alasan mereka bukan guru kelas. Namun, setelah saya jelaskan bahwa mereka akan mendapat manfaat ini mereka kemudian mencoba membuatnya. Hasilnya, saya mendapat banyak surat dan email yang isinya kegembiraan guru2 tersebut karena kelas mereka sudah menjadi kelas yang `normal’.

Sumber : https://theeacher.livejournal.com/712.html