Ciri Sejarah Lisan Adalah

Ciri Sejarah Lisan Adalah

Ciri Sejarah Lisan Adalah
Ciri Sejarah Lisan Adalah

 

Ciri-ciri sejarah lisan tidak dapat dilepaskan dari esensinya, yaitu

Bersumber pada lisan bukan pada sumber tertulis. Segala yang diucapkan oleh pelaku menjadi dasar dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan. Memang informasi yang disampaikan oleh pelaku sangat subjektif sekali. Oleh karena yang disampaikannya lebih banyak berkenaan dengan peranan dirinya. Sementara peranan orang lain yang sama-sama mengalami peristiwa itu, seakan-akan terlupakan bahkan tidak disinggung sama sekali. Namun yang pasti bahwa sumber lisan itulah yang dibutuhkan oleh peneliti dalam memperoleh informasi.

Di samping sifat lisannya itu, ciri-ciri sejarah lisan lainnya adalah

penyampaiannya lebih banyak bersifat naratif, hanya cerita pengalamannya saja yang disampaikan oleh pelaku. Kadangkala lebih banyak membicarakan tentang tingkah laku atau peran yang dianggap baik oleh pelaku. Sementara peran yang buruk atau sangat bersifat pribadi masih ditutup-tutupinya. Hal ini sangat manusiawi dan wajar.

Yang terpenting adalah masing-masing pelaku dalam satu peristiwa yang pernah dialaminya

Mempunyai karakter yang berbeda-beda sehingga penyampaiannya pun dapat berbeda-beda walaupun esensinya sama. Ingatan yang disampaikan oleh pelaku memiliki kredibilitas yang berbeda karena masing-masing pelaku mempunyai daya tampung ingatan yang berbeda-beda pula. Hanya saja perlu diketahui bahwa kedekatan dan keunikan antara pelaku dan pewawancara dapat berlangsung karena adanya kegiatan wawancara itu.

 

Posisi Sejarah Lisan dalam Metodologi Sejarah

Dalam kajian sejarah, sejarah lisan sebenarnya merupakan salah satu teknik atau metode pengumpulan data sejarah, namun bersumber pada informasi lisan, bukan sumber tertulis. Pendekatan/teknik pengumplan data sejarah dengan lisan tergolong baru untuk kajian-kajian sejarah modern, namun sesungguhnya historiografi tradisional bersumber dari tradisi lisan. Pada dasarnya teknik/metode sejarah lisan tidak berbeda dengan teknik/metode sejarah yang menggali sumber-sumber sejarah tertulis dengan kritik intern dan ekstern.

Rekonstrusi sejarah diperoleh melalui proses penyusunan kembali fakta-fakta sejarah sebagai aktualitas yang sebenarnya menjadi sejarah yang ditulis atau disusun secara tertulis, yang selama ini kita kenal dengan Historiogarafi. Jika teknik konvesional mengungkapkan aktualitas sejarah melalui sumber-sumber tertulis maka dalam sejarah lisan aktualitas sejarah diperoleh dari sumber lisan dengan membangkitkan kembali ingatan pelaku-pelaku sejarah. Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jaring-jaring-kubus/