Benarkah Petai Dapat Menyebabkan Asam Urat

Benarkah Petai Dapat Menyebabkan Asam Urat – Meski memiliki aroma yg cukup menyengat, pada realitanya petai digemari oleh sebagian akbar warga Indonesia. Petai dipercaya mampu membuat rasa kuliner menjadi lebih nikmat. Hanya saja, kuliner ini banyak dihindari karena menduga petai bisa sebabkan asam urat. Apakah hal tersebut benar?

Menurut Prof. Dr. Ir. H. Hardinsyah, MS, petai termasuk dalam kuliner yang mempunyai kandungan protein & serat yang tinggi. Di pada petai pula terdapat kandungananti bakteri, antioksidan, dan antikanker. Sayangnya, pada dalam petai memang masih ada kandungan purin yg relatif tinggi. Sudah sebagai rahasia generik jika purin memiliki kaitan erat dengan datangnya penyakit asam urat.

“Petai kaya akan kandungan purin sehingga sanggup menghipnotis kesehatan ginjal. Selain petai, apabila kita mengonsumsi jengkol terlalu banyak, maka di pada tubuh aka nada banyak kandungan asam jengkolat yg mampu memicu datangnya batu ginjal, ungkap Prof. Hardinsyah yg pula merupakan ketua generik berdasarkan PERGIZI PANGAN ini.

Lantas, apakah hal ini berarti kita sebaiknya tidak mengonsumsi petai demi mencegah datangnya asam urat?

Prof. Hardinsyah mengungkapkan bahwa kita bisa mengungkep petai terlebih dahulu demi menurunkan kadar purin pada dalamnya. Setelah direbus kandungan purin ini terdapat lebih kurang 70 atau 80 %, namun setidaknya terjadi penurunan kadar purin di dalam petai. Selain itu, terdapat baiknya kita tidak mengonsumsi petai terlalu poly demi menurunkan asupan purin.

“apabila sampai kita mengonsumsi petai hingga satu atau 2 papan hanya pada sekali makan dan kita melakukannya di seluruh ketika makan pada sehari, maka kita akan mengalami peningkatan risiko terkena asam urat dengan signifikan. Jika kita mengonsumsinya sedikit saja, maka hal ini tidak akan memberikan pengaruh akbar bagi risiko asam urat.

Lantas, bagaimana dengan jengkol?

Pakar kesehatan pula menyarankan kita buat tidak mengonsumsi jengkol setiap hari, apalagi jika dijadikan lauk sebagai akibatnya menciptakan kita mengonsumsinya menggunakan porsi yg cukup besar . Prof. Hardinsyah menyebut konsumsi jengkol yang kondusif merupakan dua atau 3 kali saja dalam seminggu.

Sumber : https://tinyurl.com/ybkj8q52