Analisis Organisasi Pengerakan Masa Pendudukan Jepang

Analisis Organisasi Pengerakan Masa Pendudukan Jepang

Analisis: Organisasi Pergerakan Masa Pendudukan Jepang
Banyak organisasi pergerakan yang dibentuk terhadap zaman Jepang. Sama seperti organisasi-organisasi pergerakan terhadap umumnya, yaitu organisasi yang berupa semimiliter dan militer. Berikut ini kita bakal membicarakan tentang perkembangan organisasi pergerakan di zaman pendudukan Jepang.

Ada satu perkembangan yang berbeda jikalau kita jelas perkembangan organisasi pergerakan antara zaman kolonial Belanda bersama dengan jaman pendudukan Jepang. Pada jaman kolonial Belanda biasanya organisasi pergerakan yang muncul dan berkembang diprakarsai oleh para pejuang rakyat Indonesia, tetapi terhadap zaman Jepang banyak organisasi atau perkumpulan yang berdiri diprakarsai oleh Jepang, pas para tokoh Indonesia coba mengfungsikan organisasi itu untuk kepentingan perjuangan. Hal ini juga tampak berhubungan bersama dengan perkembangan padangan sikap para tokoh Indonesia dalam hadapi pendudukan Jepang. Banyak di antara para tokoh Indonesia yang coba mengfungsikan jaman pendudukan Jepang untuk melanjutkan perjuangan menuju kemerdekaan. Mereka menyita sikap dan trick bekerja serupa bersama dengan Jepang.

Sebagai contoh, terhadap jaman pendudukan Jepang Sukarno bersedia bekerjasama bersama dengan Jepang. Faktor penyebabnya adalah adanya kemenangan Jepang atas Rusia terhadap tahun 1905. Sementara, Moh. Hatta dan Syahrir yang dikenal antifasisme, seharusnya menentang Jepang, tetapi keduanya menyusun trick yang saling melengkapi. Moh. Hatta menyita sikap kooperatif bersama dengan Jepang, pas Syahrir bakal menyusun “gerakan bawah tanah” (gerakan rahasia).

Syahrir yang radikal dan bergerak di “bawah tanah”, mendapat pertolongan berasal dari tokoh-tokoh lain, seperti Cipto Mangunkusumo dan mantan anggota PNI Baru, Amir Syarifudin. Padahal Amir Syarifudin dikenal sebagai sosok yang bersikap anti-Jepang. Bahkan Amir Syarifudin dimanfaatkan oleh Belanda untuk menyusun gerakan perlawanan terhadap Jepang. Untuk ini Amir Syarifudin sudah terima sejumlah duit berasal dari seorang pejabat Belanda (Van der Plas), sebagai imbalan.

Sedangkan terhadap umat Islam, Jepang mengupayakan sekuat tenaga untuk mendekatinya. Sebab, umat Islam dinilai secara mayoritas anti peradaban Barat, sehingga diharapkan jadi kapabilitas besar dan senang membantu Jepang dalam hadapi Sekutu. Sukarno dan Moh. Hatta join dalam menyita sikap kooperatif bersama dengan Jepang. Langkah itu diambil hanyalah demi target yang lebih penting, yaitu kemerdekaan. Bahkan ke dua tokoh ini juga mengusulkan sehingga segera dibentuk organisasi politik, karena sehabis Jepang berkuasa di Indonesia, semua organisasi politik yang dulu berkembang di zaman Hindia Belanda dibubarkan.

1. Organisasi yang Bersifat Sosial Kemasyarakatan
a. Gerakan Tiga A
Untuk beroleh pertolongan rakyat Indonesia, Jepang membentuk sebuah perkumpulan yang dinamakan Gerakan Tiga A (3A). Perkumpulan ini dibentuk terhadap tanggal 29 Maret 1942. Sesuai bersama dengan namanya, perkumpulan ini memiliki 3 semboyan, yaitu Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, dan Nippon Pemimpin Asia. Sebagai pimpinan Gerakan Tiga A, anggota propaganda Jepang (Sedenbu) sudah menunjuk bekas tokoh Parindra Jawa Barat yaitu Mr. Syamsuddin sebagai ketua bersama dengan dibantu lebih dari satu tokoh lain seperti K. Sutan Pamuncak dan Moh. Saleh. Jepang mengupayakan sehingga perkumpulan ini jadi wadah propaganda yang efektif. Oleh karena itu, di beraneka daerah dibentuk komite-komite. Sejak bulan Mei 1942, perhimpunan itu merasa diperkenalkan kepada penduduk melalui sarana massa. Di dalam Gerakan Tiga A juga dibentuk subseksi Islam yang disebut “Persiapan Persatuan Umat Islam”. Subseksi Islam dipimpin oleh Abikusno Cokrosuyoso.
Ternyata sama sekali bersama dengan beraneka upaya, Gerakan Tiga A ini tidak cukup mendapat simpati berasal dari rakyat. Gerakan Tiga A cuma berumur lebih dari satu bulan saja. Jepang menilai perhimpunan itu tidak efektif. Bulan Desember 1942 Gerakan Tiga A dinyatakan gagal.

b. Pusat Tenaga Rakyat
“Gerakan Tiga A” sudah gagal. Kemudian Jepang mengupayakan mengajak tokoh pergerakan nasional untuk melakukan kerjasama. Jepang lantas mendirikan organisasi pemuda, Pemuda Asia Raya di bawah pimpinan Sukardjo Wiryopranoto. Organisasi itu juga tidak mendapat sambutan rakyat. Jepang lantas membubarkan organisasi itu.

Dukungan rakyat terhadap Jepang sebetulnya tidak seperti awal kedatangannya. Hal ini sangat bisa saja juga karena sikap dan tindakan Jepang yang berubah. Seperti sudah disinggung di depan, Jepang merasa melarang pengibaran bendera Merah Putih dan yang boleh dikibarkan cuma bendera Hinomaru dan juga mengganti Lagu Indonesia Raya bersama dengan lagu Kimigayo. Jepang merasa membiasakan mengganti kalimat banzai (selamat datang) bersama dengan bakero (bodoh). Masyarakat merasa tidak simpati terhadap Jepang.“Saudara tua” tidak seperti yang mereka janjikan.

Sementara perkembangan Perang Asia Timur Raya merasa tidak menggembirakan. Kekalahan Jepang di beraneka medan pertempuran sudah mengundang rasa tidak yakin berasal dari rakyat. Oleh karena itu, Jepang harus segera memulihkan keadaan. Jepang harus sanggup bekerja serupa bersama dengan tokoh-tokoh nasionalis terkemuka, antara lain Sukarno dan Moh. Hatta. Karena Sukarno masih ditahan di Padang oleh pemerintah Hindia Belanda, maka segera dibebaskan oleh Jepang. Tanggal 9 Juli 1942 Sukarno sudah berada di Jakarta dan join bersama dengan Moh. Hatta. Jepang mengupayakan untuk menggerakkan semua rakyat melalui tokoh-tokoh nasionalis. Jepang menghendaki membentuk organisasi massa yang sanggup bekerja untuk menggerakkan rakyat. Bulan Desember 1942 dibentuk panitia persiapan untuk membentuk sebuah organisasi massa. Kemudian Sukarno, Hatta, K.H. Mas Mansur, dan Ki Hajar Dewantara dipercaya untuk membentuk gerakan baru. Gerakan itu bernama Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dibentuk 16 April 1943. Mereka lantas disebut sebagai empat serangkai. Sebagai ketua panitia adalah Sukarno. Tujuan Putera adalah untuk membangun dan menghidupkan ulang segala sesuatu yang sudah dihancurkan oleh Belanda. Menurut Jepang, Putera bertugas untuk memusatkan segala potensi penduduk Indonesia kegunaan membantu Jepang dalam perang. Di samping tugas di bidang propaganda, Putera juga bertugas melakukan perbaikan bidang sosial ekonomi.

Menurut struktur organisasinya, Putera memiliki pimpinan pusat dan pimpinan daerah. Pimpinan pusat dikenal sebagai Empat Serangkai. Kemudian pimpinan daerah dibagi, sesuai bersama dengan tingkat daerah, yaitu tingkat syu, ken, dan gun. Putera juga mempunyai lebih dari satu penasihat yang berasal berasal dari orang-orang Jepang. Mereka adalah S. Miyoshi, G. Taniguci, Iciro Yamasaki, dan Akiyama. Putera terhadap awal berdirinya, cepat beroleh sambutan berasal dari organisasi massa yang ada. Misalnya berasal dari Persatuan Guru Indonesia; Perkumpulan Pegawai Pos Menengah; Pegawai Pos Telegraf Telepon, dan Radio; dan juga Pengurus Besar Istri Indonesia di bawah pimpinan Maria Ulfah Santoso. Dari kalangan pemuda terkandung sambutan berasal dari organisasi Barisan Banteng dan berasal dari pelajar terkandung sambutan berasal dari organisasi

Badan Perantaraan Pelajar Indonesia dan juga Ikatan Sport Indonesia juga join ke dalam Putera. Putera pun berkembang dan bertambah kuat. Sekalipun di tingkat daerah tidak berkembang baik, tetapi Putera sudah sukses mempersiapkan rakyat secara mental bagi kemerdekaan Indonesia. Melalui rapat-rapat dan sarana massa, dampak Putera makin lama meluas. Perkembangan Putera selanjutnya mengundang kegelisahan di pihak Jepang. Oleh karena, Putera sudah dimanfaatkan oleh pemimpin-pemimpin nasionalis untuk mempersiapkan ke arah kemerdekaan, tidak digunakan sebagai usaha menggerakkan massa untuk membantu Jepang, maka terhadap tahun 1944 Putera dinyatakan bubar oleh Jepang.

c. MIAI dan Masyumi
Berbeda bersama dengan pemerintah Hindia Belanda yang cenderung anti terhadap umat Islam, Jepang lebih menghendaki bersahabat bersama dengan umat Islam di Indonesia. Jepang sangat perlu kapabilitas umat Islam untuk membantu melawan Sekutu. Oleh karena itu, sebuah organisasi Islam MIAI yang cukup berpengaruh yang dibekukan oleh pemerintah kolonial Belanda, merasa dihidupkan ulang oleh pemerintah pendudukan Jepang.Tepat terhadap 4 September 1942 MIAI diizinkan aktif kembali. Dengan demikian diharapkan MIAI segera sanggup digerakkan sehingga umat Islam di Indonesia sanggup dimobilisasi untuk kepentingan perang.

Dengan diaktifkannya ulang MIAI, maka MIAI jadi organisasi pergerakan yang cukup perlu di zaman pendudukan Jepang.MIAI jadi daerah bersilaturakhim, jadi wadah daerah berdialog, dan bermusyawarah untuk membicarakan beraneka hal yang menyangkut kehidupan umat, dan tentu saja bersinggungan bersama dengan perjuangan. MIAI tetap jadi organisasi pergerakan yang cukup diperhitungkan dalam perjuangan membangun kesatuan dan kesejahteraan umat. Semboyan yang kondang adalah “berpegang teguhlah kamu sekalian terhadap tali Allah dan janganlah berpecah belah”.Dengan demikian terhadap jaman pendudukan Jepang, MIAI berkembang baik.Kantor pusatnya mula-mula di Surabaya lantas ganti ke Jakarta.

Adapun tugas dan target MIAI pas itu adalah;
Menempatkan umat Islam terhadap kedudukan yang layak dalam penduduk Indonesia.
Mengharmoniskan Islam bersama dengan tuntutan perkembangan zaman.
Ikut membantu Jepang dalam Perang Asia Timur Raya
Untuk merealisasikan target dan melakukan tugas itu, MIAI membawa dampak program yang lebih menitikberatkan terhadap program-program yang berupa sosio-religius.Secara khusus program-program itu bakal diwujudkan melalui rencana: (1) pembangunan masjid Agung di Jakarta, (2) mendirikan universitas, dan (3) membentuk baitulmal. Dari ketiga program ini yang beroleh lampu hijau berasal dari Jepang cuma program yang ketiga.

MIAI konsisten mengembangkan diri di tengah-tengah ketidakcocokan bersama dengan kebijakan basic Jepang. MIAI jadi daerah pertukaranpikiran dan pembangunan kesadaran umat sehingga tidak terjebak terhadap perangkap kebijakan Jepang yang hanyalah untuk memenangkan perang Asia Timur Raya. Pada bulan Mei 1943, MIAI sukses membentuk Majelis Pemuda yang diketuai oleh Ir. Sofwan dan juga membentuk Majelis Keputrian yang dipimpin oleh Siti Nurjanah. Bahkan dalam mengembangkan aktivitasnya, MIAI juga menerbitkan majalah yang disebut “Suara MIAI”. Keberhasilan program baitulmal, makin lama memperluas jangkauan perkembangan MIAI. Dana yang terkumpul berasal dari program berikut sematamata untuk mengembangkan organisasi dan perjuangan di jalur Allah, bukan untuk membantu Jepang.

Arah perkembangan MIAI ini merasa dimengerti oleh Jepang. MIAI tidak berikan konstribusi terhadap Jepang. Hal berikut tidak sesuai bersama dengan harapan Jepang sehingga terhadap November 1943 MIAI dibubarkan. Sebagai penggantinya, Jepang membentuk Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia). Harapan berasal dari pembentukan majelis ini adalah sehingga Jepang sanggup menghimpun dana dan sanggup menggerakkan umat Islam untuk membantu aktivitas perang Asia Timur Raya. Ketua majelis ini adalah Hasyim Asy’ari dan wakil ketuanya dijabat oleh Mas Mansur dan Wahid Hasyim. Orang yang diangkat jadi penasihat dalam majelis ini adalah Ki Bagus Hadikusumo dan Abdul Wahab. Masyumi sebagai induk organisasi Islam, anggotanya lebih dari satu besar berasal dari para ulama. Dengan kata lain, para ulama dilibatkan dalam aktivitas pergerakan politik. Masyumi cepat berkembang, di setiap karesidenan tersedia cabang Masyumi. Oleh karena itu, Masyumi sukses menambah hasil bumi dan pengumpulan dana.Dalam perkembangannya, tampil tokoh-tokoh muda di dalam Masyumi antara lain Moh. Natsir, Harsono Cokroaminoto, dan Prawoto Mangunsasmito. Perkembangan ini sudah mempunyai Masyumi makin lama maju dan warna politiknya makin lama jelas. Masyumi berkembang jadi wadah untuk bertukar asumsi antara tokoh-tokoh Islam dan sekaligus jadi daerah penampungan keluh kesah rakyat. Masyumi jadi organisasi massa yang pro rakyat, sehingga menentang keras adanya romusa. Masyumi menampik perintah Jepang dalam pembentukannya sebagai penggerak romusa. Dengan demikian Masyumi sudah jadi organisasi pejuang yang membela rakyat. Sikap tegas dan berani di kalangan tokoh-tokoh Islam itu selanjutnya dihargai Jepang. Sebagai contoh, terhadap suatu pertemuan di Bandung, ketika pembesar Jepang memasuki ruangan, lantas diselenggarakan acara seikerei (sikap menjunjung Tenno Heika bersama dengan membungkukkan badan hingga 90 derajat ke arah Tokyo) ternyata tersedia tokoh yang tidak senang melakukan seikerei, yaitu Abdul Karim Amrullah (ayah Hamka). Akibatnya, muncul ketegangan dalam acara itu. Namun, sehabis tokoh Islam itu menunjukkan bahwa seikerei bertentangan bersama dengan Islam, karena sikapnya seperti orang Islam rukuk pas sholat. Menurut orang Islam rukuk cuma hanyalah kepada Tuhan dan menghadap ke kiblat. Dari alasan itu, selanjutnya orang-orang Islam diberi kebebasan untuk tidak melakukan seikerei.

d. Jawa Hokokai
Pada tahun 1944, suasana Perang Asia Timur Raya merasa berbalik, tentara Sekutu sanggup mengalahkan tentara Jepang di beraneka tempat. Hal ini membawa dampak kedudukan Jepang di Indonesia makin lama mengkhawatirkan. Oleh karena itu, Panglima Tentara ke-16, Jenderal Kumaikici Harada membentuk organisasi baru yang diberinama Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa). Untuk hadapi suasana perang tersebut, epang perlu persatuan dan dorongan segenap rakyat baik lahir maupun batin. Rakyat diharapkan memberi tambahan darma baktinya terhadap pemerintah demi kemenangan perang.

Kebaktian yang dimaksud memuat 3 hal;
mengorbankan diri,
mempertebal persaudaraan, dan,
melaksanakan suatu tindakan bersama dengan bukti.
Susunan dan kepemimpinan organisasi Jawa Hokokai berbeda bersama dengan Putera. Jawa Hokokai sangat organisasi resmi pemerintah. Oleh karena itu, pimpinan pusat Jawa Hokokai hingga pimpinan daerahnya segera dipegang oleh orang Jepang. Pimpinan pusat dipegang oleh Gunseikan, tetapi penasihatnya adalah Ir. Sukarno dan Hasyim Asy’ari. Di tingkat daerah (syu/shu) dipimpin oleh Syucokan/Shucokandan sesudah itu hingga daerah ku oleh Kuco, lebih-lebih hingga gumi di bawah pimpinan Gumico. Dengan demikian,Jawa Hokokai memiliki alat organisasi hingga ke desa-desa, dukuh,bahkan hingga tingkat rukun tetangga (Gumi atau Tonari Gumi). Tonari Gumi dibentuk untuk mengorganisasikan semua penduduk dalam kelompok-kelompok yang terdiri atas 10 – 20 keluarga. Para kepala desa dan kepala dukuh atau ketua RT bertanggung jawab atas kelompok masing-masing.

Berikut ini program-program aktivitas Jawa Hokokai;
Melaksanakan segala tindakan bersama dengan nyata dan ikhlas demi pemerin-tah Jepang.
Memimpin rakyat untuk mengembangkan tenaganya berdasarkan dorongan persaudaraan.
Memperkokoh pembelaan tanah air.
Jawa Hokokai adalah organisasi pusat yang anggota-anggotanya terdiri atas berbagai macam hokokai (himpunan kebaktian) sesuai bersama dengan bidang profesinya. Misalnya Kyoiku Hokokai (kebaktian para pendidik guru-guru) dan Isi Hokokai (wadah kebaktian para dokter). Jawa Hokokai juga mempunyai anggota istimewa, seperti Fujinkai (organisasi wanita), dan Keimin Bunka Shidosho (Pusat Kebudayaan). Di dalam membantu memenangkan perang, Jawa Hokokai sudah mengupayakan antara lain bersama dengan pengerahan tenaga dan memobilisasi potensi sosial ekonomi, jikalau bersama dengan penarikan hasil bumi, sesuai bersama dengan target yang di tentukan.

Organisasi Jawa Hokokai ini tidak berkembang di luar Jawa, sehingga Golongan nasionalis di luar Jawa tidak cukup beroleh wadah. Penguasa di luar Jawa seperti di Sumatra berpendapat bahwa di Sumatra terkandung banyak suku, bahasa, dan kebiasaan istiadat, sehingga sukar dibentuk organisasi yang besar dan memusat, jikalau tersedia cuma lokal di tingkat daerah saja. Dengan demikian, organisasi Jawa Hokokai ini juga sanggup berkembang sesuai yang diinginkan Jepang.

2. Organisasi-organisasi Militer dan Semimiliter
Sesuai bersama dengan karakter pemerintahan militer, Jepang mengupayakan mengerahkan rakyat Indonesia, terlebih para pemuda melalui beraneka macam organisasi yang berupa semimiliter dan juga yang berupa militer.
a. Pengerahan Tenaga Pemuda
Kelompok pemuda memegang kegunaan perlu di Indonesia, lebih-lebih melihat jumlahnya yang cukup besar. Menurut penilaian Jepang, para pemuda lebih-lebih yang tinggal di daerah pedesaan, belum dipengaruhi oleh alam asumsi Barat. Mereka secara fisik.cukup kuat, semangat, dan pemberani. Oleh karena itu, harus dikerahkan untuk membantu memperkuat posisi Jepang dalam hadapi perang. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, maka para pemuda dijadikan sasaran utama bagi propaganda Jepang. Dengan“Gerakan Tiga A” dan juga semboyan Jepang, Indonesia serupa saja, Jepang saudara tua, tampaknya cukup menarik bagi kalangan pemuda. Pernyataan Jepang tentang persamaan, dinilai sebagai suatu perubahan baru berasal dari suasana di jaman Belanda yang begitu diskriminatif.

Sebelum secara resmi Jepang membentuk organisasi-organisasi semimiliter, Jepang sudah melatih para pemuda untuk jadi pemuda yang disiplin, memiliki dorongan juang tinggi (seishin), dan berjiwa ksatria (bushido) yang tinggi.Sesuai bersama dengan karakter pemuda yang energik, maka yang ditekankan kepada para pemuda adalah seishin (semangat) dan bushido (jiwa satria). Selain itu, juga dikembangkan jiwa telaten dan menghalau rasa rendah diri. Salah satu langkah untuk menanamkan nilat-nilai berikut kepada kaum muda adalah bersama dengan pendidikan, baik pendidikan umum maupun pendidikan khusus. Pendidikan umum, seperti sekolah rakyat (sekolah dasar) dan sekolah menengah. Sedangkan pendidikan khusus adalah latihan-latihan yang diselenggarakan oleh Jepang.Latihan-latihan yang diselenggarakan Jepang, antara lain BPAR (Barisan Pemuda Asia Raya).Wadah ini digunakan untuk menanamkan dorongan Jepang. BPAR diselenggarakan berasal dari tingkat pusat di Jakarta. Kemudian di daerah-daerah dibentuk Komite Penginsafan Pemuda, yang anggota-anggotanya terdiri atas unsur kepanduan. Bentuk komite seperti ini sifatnya lokal dan sesuai bersama dengan suasana daerah masing-masing.

Barisan Pemuda Asia Raya tingkat pusat diresmikan terhadap 11 Juni 1942 bersama dengan pimpinan dr. Slamet Sudibyo dan S.A. Saleh. Sebenarnya, BPAR anggota berasal dari Gerakan Tiga A. Program latihan di BPAR diselenggarakan dalam jangka pas tiga bulan dan jumlah peserta tidak dibatasi. Semua pemuda boleh masuk mengikuti latihan. Di dalam latihan-latihan itu ditekankan pentingnya dorongan dan keyakinan, mengingat mereka bakal jadi pimpinan para pemuda.

Selain BPAR, Jepang juga membentuk wadah latihan yang disebut San A Seinen Kutensho di bawah Gerakan Tiga A, yang diprakarsai oleh H.Shimuzu dan Wakabayashi. Di dalam San A Seinen Kurensho latihan diselenggarakan selama satu 1/2 bulan. Latihan-latihannya berupa khusus, yaitu bertujuan kepada para pemuda yang sudah dulu aktif di dalam organisasi, jikalau kepanduan. Di samping latihan-latihan yang mengenai bersama dengan ketekunan dan semangat, pemuda juga diajari tentang pengetahuan-pengetahuan praktis seperti memasak, memelihara rumah, dan juga berkebun. Selain itu, pemuda juga diajari bahasa Jepang. Pada tahap pertama pelatihan, sudah dilatih sebanyak 250 orang.

Meskipun sudah dibentuk San A Seinen Kutensho, perkumpulan kepanduan juga masih diadakan, jikalau “Perkemahan Kepanduan Indonesia” (Perkindo) yang diselenggarakan di Jakarta. Gerakan kepanduan merupakan wadah yang cukup baik untuk membina kader yang penuh dorongan dan disiplin. Perkumpulan ini dulu dikunjungi oleh Gunseikan dan tokoh Empat Serangkai berasal dari Putera.

b. Organisasi Semimiliter
Seinenda
Seinendan (Korps Pemuda) adalah organisasi para pemuda yang berusia 14-22 tahun. Pada awalnya, anggota Seinendan 3.500 orang pemuda berasal dari semua Jawa.Tujuan dibentuknya Seinendan adalah untuk edukatif dan melatih para pemuda sehingga sanggup memelihara dan mempertahankan tanah airnya bersama dengan kapabilitas sendiri. Bagi Jepang, untuk beroleh tenaga cadangan kegunaan memperkuat usaha raih kemenangan dalam perang Asia Timur Raya, harus diadakannya pengerahan kapabilitas pemuda. Oleh karena itu, Jepang melatih para pemuda atau para remaja melalui oraganisasi Seinendan. Dalam hal ini seinendan difungsikan sebagai barisan cadangan yang mengamankan garis belakang. Pengkordinasian aktivitas Seinendan ini diserahkan kepada penguasa setempat. Misalnya di daerah tingkat syu, ketuanya syucokan sendiri. Begitu juga di daerah ken, ketuanya kenco sendiri dan seterusnya. Untuk memperbanyak jumlah Seinendan, Jepang juga menggerakkan Seinendan anggota putri yang disebut Josyi Seinendan.Sampai terhadap jaman akhir pendudukan Jepang, jumlah Seinendan itu raih sekitar 500.000 pemuda. Tokoh-tokoh Indonesia yang dulu jadi anggota Seinendan antara lain,Sukarni dan Latif Hendraningrat.

Keibodan
Organisasi Keibodan (Korps Kewaspadaan) merupakan organisasi semimiliter yang anggotanya para pemuda yang berusia antara 25-35 tahun. Ketentuan utama untuk sanggup masuk keibodan adalah mereka yang berbadan sehat dan berkelakuan baik. Apabila dilihat berasal dari usianya, para anggota Keibodan sudah lebih matang dan siap untuk membantu Jepang dalam keamanan dan ketertiban.

Pembentukan Keibodan ini sebetulnya bertujuan untuk membantu tugas polisi, jikalau memelihara lantas lintas dan pengamanan desa. Untuk itu anggota Keibodan juga dilatih kemiliteran. Pembina Keibodan adalah Departemen Kepolisian (Keimubu) dan di daerah syu (shu) dibina oleh Bagian Kepolisian (Keisatsubu). Di kalangan orang-orang Cina juga dibentuk Keibodan yang dinamakan Kakyo Keibotai.

Untuk menambah kualitas dan keterampilan Keibodan maka Jepang mengadakan program latihan khusus untuk para kader. Latihan khusus itu diselenggarakan di sekolah Kepolisian di Sukabumi. Jangka pas latihan itu selama satu bulan. Mereka dibina secara khusus dan diawasi secara segera oleh para polisi Jepang. Mereka tidak boleh dipengaruhi oleh kaum nasionalis.

Organisasi Seinendan dan Keibodan dibentuk di daerah-daerah semua Indonesia, walau namanya berbeda-beda. Misalnya di Sumatra disebut Bogodan dan di Kalimantan disebut Borneo Konan Kokokudan. Jumlah anggota Seinendan diperkirakan raih dua juta orang dan Keibodan raih sekitar satu juta anggota.

Di samping Seinendan dan Keibodan, terhadap bulan Agustus 1943 juga dibentuk Fujinkai (Perkumpulan Wanita). Anggotanya sedikitnya harus berusia 15 tahun. Fujinkai bertugas di garis belakang untuk menambah kesejahteraan dan kesegaran penduduk melalui aktivitas pendidikan dan kursus-kursus.

Ketika suasana perang makin lama memanas, Fujinkai ini juga diberi latihan militer sederhana, lebih-lebih terhadap tahun 1944 dibentuk “Pasukan Srikandi”. Organisasi sejenis juga dibentuk untuk umur murid SD yang disebut Seinentai (barisan murid sekolah dasar), lantas dibentuk Gakukotai (barisan murid sekolah lanjutan).

Barisan Pelopor
Pada pertengahan tahun, diselenggarakan rapat Chuo-Sangi-In (Dewan Pertimbangan Pusat). Salah satu ketetapan rapat berikut adalah merumuskan langkah untuk menumbuhkan keinsyafan dan kesadaran yang mendalam di kalangan rakyat untuk memenuhi kewajiban dan membangun persaudaraan untuk semua rakyat dalam rangka mempertahankan tanah airnya berasal dari serangan musuh.

Sebagai wujud konkret berasal dari kesimpulan rapat itu maka terhadap 1 November 1944, Jepang membentuk organisasi baru yang dinamakan “Barisan Pelopor”.Melalui organisasi ini diharapkan adanya kesadaran rakyat untuk berkembang, sehingga siap untuk membantu Jepang dalam mempertahankan Indonesia.Organisasi semimiliter “Barisan Pelopor” ini tergolong unik karena pemimpinnya adalah seorang nasionalis, yaitu Ir. Sukarno, yang dibantu oleh R.P. Suroso, Otto Iskandardinata, dan Buntaran Martoatmojo.

Organisasi “Barisan Pelopor” berkembang di daerah perkotaan. Organisasi ini mengadakan pelatihan militer bagi para pemuda, walau cuma mengfungsikan peralatan yang sederhana, seperti senapan kayu dan bambu runcing. Di samping itu, mereka juga dilatih bagaimana menggerakkan massa, memperkuat pertahanan, dan hal-hal lain yang mengenai bersama dengan kesejahteraan rakyat.

Keanggotaan berasal dari Barisan Pelopor ini mancakup semua pemuda, baik yang terpelajar maupun yang berpendidikan rendah, / lebih-lebih tidak mengenyam pendidikan serupa sekali. Keanggotaan yang heterogen ini justru diharapkan mengundang dorongan solidaritas yang tinggi, sehingga timbul ikatan emosional dan dorongan kebangsaan yang tinggi. Barisan Pelopor ini berada di bawah naungan Jawa Hokokai. Anggotanya raih 60.000 orang.

Di dalam Barisan Pelopor ini, dibentuk Barisan Pelopor Istimewa yang anggotanya dipilih berasal dari asrama-asrama pemuda yang terkenal. Anggota Barisan Pelopor Istimewa berjumlah 100 orang, di antaranya tersedia Supeno, D.N. Aidit, Johar Nur, dan Asmara Hadi. Ketua Barisan Pelopor Istimewa adalah Sudiro. Barisan Pelopor Istimewa berada di bawah kepemimpinan para nasionalis,sehingga berkembang pesat.

Dengan adanya organisasi ini, dorongan nasionalisme dan rasa persaudaraan di lingkungan rakyat Indonesia jadi berkobar.
Hizbullah

Pada 7 September 1944, PM Jepang, Kaiso mengeluarkan janji tentang kemerdekaan untuk Indonesia. Sementara suasana di medan perang, Jepang mengalami beraneka kekalahan. Jepang merasa merasakan beraneka kesulitan. Keadaan berikut membawa dampak Jepang untuk menambah kapabilitas yang sudah ada.

Jepang memiliki rencana untuk membentuk pasukan cadangan khusus dan pemuda-pemuda Islam sebanyak 40.000 orang. Rencana Jepang untuk membentuk pasukan khusus Islam tersebut, cepat tersebar di tengah masyarakat. Rencana ini segera mendapat sambutan positif berasal dari tokoh-tokoh Masyumi, sama sekali motivasinya berbeda.

Begitu pula para pemuda Islam lainnya,mereka menyongsong bersama dengan penuh antusias. Bagi Jepang, pasukan khusus Islam itu digunakan untuk membantu memenangkan perang, tetapi bagi Masyumi pasukan itu digunakan untuk persiapan menuju cita-cita kemerdekaan Indonesia. Berkaitan bersama dengan hal itu maka para pemimpin Masyumi mengusulkan kepada Jepang untuk membentuk pasukan sukarelawan yang khusus terdiri atas pemuda-pemuda Islam.

Oleh karena itu, terhadap 15 Desember 1944 berdiri pasukan sukarelawan pemuda Islam yang dinamakan Hizbullah (Tentara Allah) yang dalam istilah Jepangnya disebut Kaikyo Seinen Teishinti.

Tugas pokok Hizbullah adalah sebagai berikut;
a. Sebagai tentara cadangan bersama dengan tugas:
melatih diri, jasmani maupun rohani bersama dengan segiat-giatnya,
membantu tentara Dai Nippon,
menjaga bahaya udara dan mengintai mata-mata musuh, dan
menggiatkan dan menguatkan usaha-usaha untuk kepentingan perang.
b. Sebagai pemuda Islam, bersama dengan tugas:
menyiarkan agama Islam,
memimpin umat Islam sehingga taat menggerakkan agama, dan
membela agama dan umat Islam Indonesia.
Untuk mengoordinasikan program dan aktivitas Hizbullah, maka dibentuk pengurus pusat Hizbullah. Ketua pengurus pusat Hizbullah adalah KH. Zainul Arifin, dan wakilnya adalah Moh. Roem. Anggota pengurusnya antara lain, Prawoto Mangunsasmito, Kiai Zarkasi, dan Anwar Cokroaminoto.

Setelah itu, dibuka pendaftaran untuk anggota Hizbullah. Pada tahap pertama pendaftaran melalui Syumubu (kantor Agama). Setiap karesidenan diminta mengirim 25 orang pemuda Islam, biasanya mereka para pemuda berusia 17-25 tahun. Berdasarkan usaha tersebut, terkumpul 500 orang pemuda. Para anggota Hizbullah ini lantas dilatih secara kemiliteran dan dipusatkan di Cibarusa, Bogor, Jawa Barat. Pada 28 Februari 1945, latihan secara resmi dibuka oleh pimpinan tentara Jepang. Pembukaan latihan ini dihadiri oleh pengurus Masyumi, seperti KH. Hasyim Asyari, K.H. Wahid Hasyim, dan Moh. Natsir. Dalam pidato pembukaannya, pimpinan tentara Jepang menegaskan bahwa para pemuda Islam dilatih sehingga jadi kader dan pemimpin barisan Hizbullah. Tujuannya adalah sehingga para pemuda sanggup mengatasi kesukaran perang bersama dengan hati tabah dan iman yang teguh. Para pelatihnya berasal berasal dari komandan-komandan Peta dan di bawah pengawasan perwira Jepang, Kapten Yanagawa Moichiro (pemeluk Islam, yang lantas menikah bersama dengan seorang putri berasal dari Tasik).

Latihan dijalankan di Cibarusa selama tiga 1/2 bulan. Program latihannya di samping keterampilan fisik kemiliteran, juga dalam bidang mental rohaniah. Keterampilan fisik kemiliteran dilatih oleh para komandan Peta, tetapi bidang mental kerohanian dilatih oleh K.H. Mustafa Kamil (bidang kekebalan), K.H. Mawardi (bidang tauhid), K.H. Abdul Halim (bidang politik), dan Kiai Tohir Basuki (bidang sejarah). Sementara itu, sebagai ketua asrama adalah K.H. Zainul Arifin. Ternyata latihan di Cibarusa sudah sukses membina kader-kader pejuang yang militan. Pelatihan itu juga menumbuhkan dorongan nasionalisme para kader Hizbullah. Setelah selesai pelatihan, mereka ulang ke daerah masing-masing untuk membentuk cabang-cabang Hizbullah beserta program pelatihannya. Dengan demikian, berkembanglah kapabilitas Hizbullah di beraneka daerah.

Para anggota Hizbullah jelas bahwa tanah Jawa adalah pusat pemerintahan tanah air Indonesia maka harus dipertahankan. Apabila Jawa yang merupakan garis terdepan diserang musuh, Hizbullah bakal mempertahankan bersama dengan penuh semangat. Semangat ini tentu terhadap hakikatnya bukan karena untuk membantu Jepang, tetapi demi tanah air Indonesia. Jika Barisan Pelopor disebut sebagai organisasi semimiliter di bawah naungan Jawa Hokokai, maka Hizbullah merupakan organisasi semimiliter berada di bawah naungan Masyumi.

Sumber : https://www.biologi.co.id/6-ciri-ciri-makhluk-hidup/

Baca Juga :